Pengantar & keterangan pameran Perak Project

Pameran seni yang mengundang seniman dan kreator untuk melihat wilayah "Perak" di Surabaya, kemudian membuat narasi ulang melalui perspektif mereka.

Ayorek, Budaya · 14 February 2015 · Keywords: , ·
tanjungperak19

Perak Project exhibition adalah pameran seni yang mengundang seniman dan kreator untuk melihat wilayah “Perak” di Surabaya, kemudian membuat narasi ulang melalui perspektif mereka. Proyek ini tidak bermaksud menjadi perwakilan narasi maupun kesimpulan yang selesai tentang Perak. Pameran ini merupakan pemantik awal untuk mengajak warga kota melihat kembali dan membayangkan narasi dan ide pikiran mereka tentang wilayah ini.

Di proyek ini seniman diminta mengeksplorasi berbagai konteks, relasi, dan narasi kecil yang terjalin di daerah Perak. Tujuannya untuk memikirkan ulang dan memunculkan kemungkinan narasi lain dari narasi besar yang sudah menancap di persepsi kita tentang wilayah ini. Terlepas dari singkatnya rentang waktu produksi proyek ini (sekitar satu bulan penuh), tawaran yang diberikan artis yang diundang cukup variatif dari segi gagasan maupun artistik. Keberagaman juga dapat dilihat dari gradasi konteks pembacaan yang dipilih seniman ketika menarasikan ulang Perak. Ada yang menarik narasinya ke konteks personal, ada yang berusaha membaca konteks lokal, ada pula yang membawanya ke ranah pengetahuan praktis sehari-hari. Semua narasi memiliki tawarannya masing-masing.

Kebanyakan dari profil seniman yang berpartisipasi berusia cukup muda (awal 20 tahun-30 tahun). Dengan ketertarikan yang cukup berbeda-beda namun memiliki satu kesamaan; tidak ada satupun yang tinggal di daerah Perak. Hal ini dirasa menarik oleh kurator yang tinggal di Perak, untuk mengetahui perspektif orang “luar” mengenai daerah tempat tinggalnya.

Namun itu bukan satu-satunya alasan kenapa wilayah ini dipilih sebagai daerah observasi bagi proyek ini. Terlepas berbagai perbaikan infrastruktur serta fasilitas umumnya, daerah ini mengalami perubahan dan dinamika yang cukup menantang seiring laju pertumbuhan pembangunan yang sedikit banyak arahnya semakin menjauhi daerah tersebut. Peran vitalnya sebagai pintu masuk dari jalur air juga mendapat saingan dari munculnya beberapa portal baru. Semuanya tentu merupakan proses yang alamiah, sebagai bagian dari fase bertumbuhnya kota. Tawaran untuk melihat kembali Perak bukan bermaksud untuk mengadvokasi, akan tetapi bagian dari ajakan untuk melihat kota beserta dinamika dan permasalahannya secara utuh.

Sebagaimana kita memahami bahwa berbagai permasalahan dan tantangan di kota tidak terlepas dari tantangan yang dihadapi di desa. Beberapa orang memandang dinamika tersebut sebagai kontestasi narasi besar dan narasi kecil. Memahami Perak yang bisa kita ibaratkan sebagai narasi kecil di Surabaya, semoga akan membantu kita memahami gambaran yang lebih luas dari narasi dan isu besar yang sedang dihadapi di wilayah lain di Surabaya yang sedang kencang pertumbuhannya.

Mari berbagi pendapat, foto, pengetahuan dan narasi—sebesar atau sekecil apapun—tentang Perak. Utarakan di Instagram, Twitter, dengan #PerakProject.


Bab U Syimal / Gerbang Utara

Bab U Syimal / Gerbang Utara (Adil Alba)

Bab U Syimal / Gerbang Utara (Adil Alba)

Sebagai pemuda keturunan Arab yang tinggal di kampung dengan tradisi Arab yang cukup kuat di Surabaya, Adil memiliki minat terhadap sejarah dan perkembangan komunitas Arab di Surabaya. Adil menarik konteks Tanjung Perak ke ranah identitas personalnya. Menelusuri pertanyaan mengenai asal usul leluhurnya melalui metode eksperimental. Hasilnya berupa narasi imajinatif tentang kedatangan awal leluhurnya di Tanjung Perak yang ditampilkan dalam rupa arsip, dokumen perjalanan beserta artifaknya.

Adil Alba, bassist band Hi Mom yang aktif dalam skena musik indie Surabaya, dan juga menjalankan usaha agensi kreatif di bidang digital bernama First Aid Kit Media. Sebagai pemuda Kampung Arab Surabaya dengan ketertarikan terhadap sejarah dan perkembangan komunitas Arab di Nusantara membuat Adil mendirikan dan mengelola situs web Kampung Arab Surabaya, selain juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk pengorganisasian festival di Kampung Arab.
Email: [email protected] Website: http://kampungarabsurabaya.blog.com

Chimerical Doodles

Chimerical Doodles (Adrea Kristatiani)

Chimerical Doodles (Adrea Kristatiani)

Seperti karya-karyanya sebelumnya, Adrea gemar menggunakan ilustrasi yang -meminjam istilah anak muda- unyu untuk merespon tema. Adrea juga gemar mengamati berbagai referensi blog ilustrasi mutakhir yang sering memotivasinya untuk mengeksplorasi cara kerja ilustrasi. Kali ini ilustrasi unyu tersebut digambar seakan-akan berinteraksi dengan foto-foto yang diambil dari sekitar lokasi pelabuhan, menyatu dengan objek “kelas berat” dengan nuansa dan tekstur visual yang kasar nan gahar. Interaksi yang kontras tersebut pada akhirnya menurunkan kadar tensi yang menawarkan dialog dan narasi baru yang segar.

Adrea Kristatiani, saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di kajian budaya Universitas Airlangga. Adrea berkontribusi sebagai penulis dan fotografer di Ayorek.org sembari mengembangkan usaha di bidang ilustrasi , kartu ucapan dan pernak perniknya atas nama Illustration Café.
Email: [email protected] Twitter & Instagram: @adrkrist

Savoury Battery

Savoury Battery (Holopis)

Savoury Battery (Holopis)

Kolektif Holopis memahami kegemaran mereka mengulik pengetahuan tentang makanan, alam dan teknologi sebagai bagian dari ekplorasi seni. Solusi praktis, eksplorasi, dan bermain dengan objek keseharian menjadi metoda artistik pilihan mereka. Bereksperimen dengan sumber daya air laut, Holopis merakit sebuah perangkat sederhana yang tidak mahal sebagai sumber tenaga untuk menyalakan lampu LED. Kejelian bereksperimen dengan sumber daya alam yang melimpah dan terabaikan di sekitar Perak ini dapat membuka peluang positif bagi sumber energi alternatif yang bersih dan aman di masa depan.

Holopis adalah sebuah kolektif yang terdiri dari individu lintas disiplin (aktivis pangan, illustrator-desainer, hacktivist, web desainerfotografer). Diambil dari istilah bahasa Jawa yang berarti bekerja bersama-sama secara kooperatif, Holopis belajar dan bekerja dengan alam, masyarakat dan teknologi ramah lingkungan untuk pengembangan pangan dan potensi lokal lainnya untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Email: [email protected] Website: holopis.com

Benang Merah

Benang Merah (Laring Project)

Benang Merah (Laring Project)

Kolektif Laring Project memiliki ketekunan dalam membuat sintesa dari berbagai artikulasi seni menjadi olahan artistik yang eksperimental. Kali ini mereka berusaha memahami rangkaian peristiwa dan narasi yang tersebar di pelabuhan sebagai benang merah yang saling silang dan bertautan. Menggunakan elemen pelabuhan seperti tali tambang dan berbagai suara yang terekam disana, dinamika jaringan narasi tersebut kemudian mereka terjemahkan ke dalam diksi-diksi bahasa visual, bunyi dan gerak yang saling bersilangan dalam titik-titik temu. Seperti jaringan benang merah itu sendiri.

Laring berasal dari larynx, yaitu sumber bunyi di dalam organ tubuh manusia dan menjadi kekuatan manusia untuk bersuara, berteriak dan berkomunikasi verbal. Terbentuk tahun 2012, oleh Gema Swaratyagita, sebagai sebuah aktivitas eksplorasi bunyi, salah satunya melalui media bambu sebagai sumber bunyi di dalam sekuel karyanya. Aktivitas bebunyian ini kemudian terus berkembang di dalam kekaryaan seni dengan wadah laring project bersama sejumlah musisi dan seniman lainnya. Tidak hanya bergerak di seputar bebunyian dan musik, Laring Project juga melakukan eksplorasi dengan visual dan gerak.
Email: [email protected] Twitter: @laringproject

Vessel

Vessel (Nita Darsono)

Vessel (Nita Darsono)

Tanjung Perak sebagai pintu laut Surabaya memiliki peran vital bagi kehidupan dan aktivitas kota. Ragam komoditas maupun material yang pergi, datang, dan masuk ke dalam kontainer-kontainer, kemudian didistribusikan ke berbagai titik kota yang membutuhkannya. Dan terjadilah sirkulasi narasi dan aktivitas kota . Nitchii menarik persamaan aktivitas Perak sebagai pintu masuk beserta kontainernya dengan aktivitas otak manusia.

Seperti kontainer, otak mengisi dan terisi berbagai material dan komoditas pikiran. Keinginan, tanggung jawab, beban, pengetahuan, berbagai macam perasaan dan ingatan yang tersimpan di otak kemudian terdistribusikan ke berbagai organ dan saraf motorik hingga memungkinkan manusia beraktivitas dan menciptakan narasinya.

Menggunakan peta imajinatif Perak sebagai area metafora yang akan di isi oleh hilir mudik kontainer isi-isi pikiran, Nitchii mengilustrasikan interaksi antara narasi wilayah, benda, dan individu personal saling beririsan dan lepas.

Memulai karirnya sebagai desainer, Nita Darsono aka Nitchii kemudian memilih untuk fokus di jalur ilustrasi. Dalam proses ilustrasinya ia sering menggabungkan ide personal dengan elemen rutinitas keseharian. Ilustrasinya telah dipamerkan di beberapa kota di Indonesia, dan juga di publikasikan dalam majalah, buku, dan diproduksi dalam bentuk merchandise.
Email [email protected] Twitter & Instagram: @nitchii

Monumental

Chimerical Doodles (Adrea Kristatiani)

Monumental (Nadia Maya Adriani)

Melalui eksplorasi kolase, Maya merayakan kehadiran patung kuda yang terdapat di tengah Taman Barunawati sebagai monumen “alternatif” yang menantang konsepsi pikiran kita akan monumen pada umumnya. Secara penampilan si kuda jauh dari kriteria sebuah monumen. Ukurannya hanya sebesar kira-kira kuda ukuran asli. Ada kalanya orang tua menaikkan anaknya yang masih kecil di punggung si kuda sebagai hiburan. Permukaan tubuhnya dicoreti beberapa tulisan iseng pengunjung taman. Kuda juga bukan jenis hewan yang mewakili asosiasi kita terhadap wilayah Perak, tidak seperti monumen lain disana yang bernuansa “maritim”. Sungguh jauh dari syarat umum monumen yang cenderung megah, berwibawa, dan representatif.

Bagaimanapun monumen mungil ini telah hadir jauh sebelum dibangunnya monumen “normal” seperti patung Jalesveva Jayamahe di pelabuhan, maupun Monumen Kapal Tugboat yang berada persis di seberang taman si patung kuda berada. Sempat mengalami berbagai “perubahan ras” setelah dicat berulang kali kulit dan rambutnya, monumen ini seperti perumpamaan sempurna bahwa perihal bertahan hidup bukan masalah ukuran yang besar, melainkan kemampuan beradaptasi dengan konteks. Fungsinya sebagai tetenger pun bercampur dengan kanvas bagi racauan dan curhat remaja maupun warga setempat. Bagi Maya, mungil dan tidak berjarak menjadi model alternatif terhadap konsepsi monumen yang megah dan berjarak.

Nadia Maya Ardiani, reporter-fotografer radio Merdeka FM dan kontributor Ayorek.org yang gemar menganyam benang, merekam band-band-an, membuat komik tentang aib sendiri, dan mengamati tulisan di pantat truk.
Email: [email protected] Twitter: @inyongski & Instagram: @nm_ardiani