Sapi dan Manusia: Tradisi Aduan Sapi Madura

Permainan mengadu dua sapi jantan yang diadakan oleh masyarakat Madura. Pertama kali muncul pada dekade awal abad 20, keberadaannya masih kalah pamor dari budaya kerapan sapi.

Budaya, Sejarah · 18 February 2016 · Keywords: , , ·
Sapi dan tokang selir

Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia oleh Zeinul Isbat, dari artikel penelitian oleh Huub de Jonge, “Of bulls and men; The Madurese aduan sapi”, Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, Volume 146, Issue 4, pages: 423 –447, sebagai materi dari katalog pameran Homo Sapirin, pameran tunggal Suvi Wahyudianto yang dikuratori oleh Ayos Purwoaji.

Simak artikel selengkapnya di:
http://booksandjournals.brillonline.com/content/journals/10.1163/22134379-90003209


Seperti di negara-negara Asia Tenggara lainnya, permainan adu binatang sangat populer di Indonesia. Salah satu yang pernah terkenal dulu adalah permainan adu harimau melawan kerbau, yang sekarang dilarang. Dalam permainan ini harimau bisa dibaca mewakili golongan bangsawan, sedangkan kerbau mewakili golongan jelata. Aduan hewan lainnya yang sekarang masih diselenggarakan secara legal maupun sembunyi-sembunyi misalnya; sabung ayam, aduan kerbau, pacu kerbau, aduan kuda, kontes merpati, puyuh, dan jangkrik, aduan domba jantan, atau pertarungan antara domba jantan melawan babi hutan, kerapan sapi dan aduan sapi/banteng. Sementara itu adanya adu manusia dengan hewan tidak pernah diketahui keberadaannya hingga sekarang. Di masa lalu, tepatnya di Jawa, seorang pesakitan (tawanan) dipersenjatai senjata tumpul kemudian diadu melawan harimau; ini lebih sebagai sebuah hukuman dari pada sebuah permainan. Sama timpangnya seperti budaya buru macan, yaitu ‘permainan’ antara harimau dan sekelompok orang yang mencoba melumpuhkan harimau tersebut.

Masih sangat sedikit jumlah antropolog yang mengkaji dan menulis mengenai budaya perlombaan adu hewan tersebut di atas, kecuali pada sabung ayam (Geertz, 1973). Hingga sekarang, kita hanya memiliki sedikit bahan-bahan kajian yang berasal dari zaman kolonial ditulis oleh para pelancong, ahli hewan, juru tulis partikelir, dan istri-istri pejabat kolonial setempat. Penuturan dalam tulisan mereka, rata-rata bersifat subjektif. Hanya berdasar pada kepekaan dan prasangka mereka pribadi tanpa kajian yang mendalam.

Makalah ini terfokus pada kajian budaya Aduan Sapi, yaitu permaianan tradisional mengadu dua sapi jantan. Saat ini, aduan tersebut hanya diadakan oleh masyarakat Madura yang bermukim di kawasan ujung timur pulau Jawa. Pulau Madura sendiri berada di sisi timurlaut pulau Jawa. Aduan sapi pertama kali muncul pada dekade awal abad ini. Keberadaannya masih kalah pamor dari budaya kerapan sapi, yang pada saat itu menjadi fenomena di Jawa Timur.

Pada kerapan sapi, dua pasang sapi jantan diadu kecepatan larinya dalam menempuh jarak kurang lebih 80-130 meter, masing-masing dikendalikan oleh seorang joki memakai peralatan mirip kereta yang disebut keleles. Sapi-sapi yang menang dan kalah dalam babak penyisihan awal akan dipisah kelasnya menjadi “papan atas” dan “papan bawah”. Selanjutnya pada tiap kelas itu dimulai penyisihan ronde pertama, kedua, ketiga, hingga babak final. Dalam ronde-ronde ini pertandingan menggunakan sistem gugur. Madura terkenal akan budaya kerapan sapinya. Terutama di kawasan bagian timur Madura, di mana kerapan sapi diadakan hampir di setiap desa. Tiap tahunnya, kompetisi besar diadakan. Pesertanya terdiri atas sapi-sapi unggulan yang mewakili empat kabupaten di Madura. Seperti halnya dalam budaya pelombaan hewan di Nusantara, nominal uang yang sangat besar dipertaruhkan. Laga finalnya selalu menarik perhatian masyarakat luas, dihadiri oleh tokoh-tokoh dari Jawa dan wisatawan manca negara.

Sementara Aduan Sapi kurang dikenal dan kurang menarik perhatian masyarakat luar. Aduan ini dianggap sarat kontroversi, bukan dari cara hewan diperlakukan dalam atraksi permainnya melainkan dari sisi lain yang timbul karenanya, seperti; maksiat, perjudian dan kekerasan. Ini merupakan fenomena sekunder yang tidak jauh berbeda dari yang ditemukan di Madura sendiri (kerapan sapi). Namun, di kawasan ujung timur pulau Jawa, mereka memberikan pelarangan yang lebih besar.

Dalam tulisan ini saya ingin meneliti makna Aduan Sapi baik bagi mereka yang terlibat langsung dan masyarakat Madura pada umumnya. Mewakili apa dan melambangkan apa sebenarnya permainan ini? Sebetulnya ini bukan pertanyaan baru, bahkan telah menjadi pertanyaan umum yang menjadi rujukan dasar para peneliti budaya tradisional sejenis dalam masyarakat lainnya di Nusantara. Geertz (1973: 444-446), dalam artikel klasiknya pada sabung ayam di Bali, menggambarkannya keduanya sebagai metafora dan contoh kehidupan sosial Bali. Douglass (1984), Driessen (1981) dan Marvin (1984, 1986), dalam studi mereka pada permainan adu hewan khas Spanyol, telah menunjuk pentingnya pertandingan ini untuk menunjukkan identitas seksual dari orang-orang terlibat. Kedua gagasan ini mendorong saya untuk menganalisis Aduan Sapi. Ide-ide penting untuk pemahaman yang lebih baik akan budaya ini bisa ditemukan lebih luas seiring meningkatnya jumlah literatur tentang perlakuan pada hewan (antara lain Thomas, 1983; Serpell, 1986) dan simbolisme pada binatang (antara lain Blok, 1981; Lawrence, 1984).

Bahasan studi tentang Aduan Sapi di ujung timur pulau Jawa ini berdasar pada data yang dikumpulkan di bebagai pertandingan-pertandingan yang diselenggarakan pada tahun 1986 dan 1987. Awalnya, saya datang menonton pertandingan ini selayaknya penonton pada umumnya, seperti ketika datang ke stadion untuk menonton pertandingan bola. Untuk mencari kesenangan dan hiburan. Kemudian saya menyadari bahwa permainan ini bukan hanya sekedar pentas hiburan saja. Penelitian sebelumnya membuat kebudayaan Madura tidak terlalu asing bagi saya. Saya takjub akan keseluruhan prosesi yang mereka tontonkan. Aduan ini mempertontonkan sebuah manifestasi kultural penting yang menggambarkan kehidupan masyarakat Madura sehingga penonton dapat membacanya secara gamblang pun juga rahasia.

Memelihara sapi ternak dalam masyarakat Madura

Ukiran sapi oleh anak berusia 6 tahun

Ukiran sapi oleh anak berusia 6 tahun

Pulau Madura dihuni oleh kurang lebih tiga juta jiwa penduduk. Setidaknya dua kali lipat dari jumlah penduduk Jawa Timur, mereka terkenal sebagai masyarakat peternak sapi handal. Lebih dari sepertiga persentase sapi ternak di Indonesia, tak termasuk jenis kerbau rawa, berasal dari Madura. Sapi-sapi tersebut berasal dari pulau Madura dan banyak dijumpai pula di daerah-daerah di ujung timur garis pantai Jawa Timur di mana banyak orang Madura bermigrasi. (Statistik Indonesia 1975: 214; Statistik Jawa Timur 1975: 101).

Kepemilikan sapi jantan bagi orang Madura sama bernilainya seperti kerbau bagi seorang Jawa: yaitu sebagai simbol kekuasaan dan kemakmuran. Namun kenyataannya, kebanyakan ternak sapi ini berkembang di daerah-daerah gersang di mana jarang bisa dijumpai padang hijau rumput savana, sehingga rumput untuk pakan ternak-ternak tersebut harus dicari terlebih dahulu. Bagi petani di daerah-daerah ini, peternakan sapi menghasilkan sebagian besar untuk penghidupan keluarga. Luas lahan garapan mereka umumnya tidak sampai setengah hektar dan merupakan tanah non-irigasi atau tegal. Menanam dan memelihara ternak adalah kegiatan yang saling melengkapi bagi petani dengan lahan garapan kecil. Per keluarga petani biasanya memiliki satu atau dua pasang ternak sapi yang mereka gunakan untuk membajak tanah, pengeras lahan dan sumber pupuk. Ternak sapi tersebut diberi makan rumput aritan dan limbah organik. Kotorannya dibakar dengan jerami untuk menjadi serbuk pupuk yang kemudian disebar pada lahan garapan. Anak sapi yang masih muda biasanya dijual untuk pembibitan atau dipotong untuk suplai daging, tergantung kebutuhan uang. Umumnya, para petani sendiri jarang mengonsumsi daging ternak mereka sendiri.

Selain sebagai pembudidayaan dan alat perdagangan, hewan ternak juga berfungsi sebagai simpanan uang jangka panjang, investasi untuk masa-masa sulit. Sapi ternak memiliki nilai sama layaknya nilai uang di bank. Seseorang bisa menggunakan ternak untuk pembayaran dan menunjukkan status kekayaan seseorang dari jumlah mereka. Untuk waktu yang lama di zaman kolonial sapi digukan sebagai sarana tranportasi. Mereka digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun-kebun ke pabrik-pabrik. Kereta yang ditarik banteng masih bisa dijumpai di jalan perkotaan maupun di pedesaan hingga hari ini (untuk informasi rinci tentang sapi Madura, lihat Kok, 1921; Smith, 1989).

Perlakuan orang Madura pada sapi ternak sungguh sangat erat, seolah-olah sapi mereka anggap bagian dari anggota keluarga. Kandang sapi ditempatkan disamping dapur sehingga mudah diawasi dari beranda rumah. Kebanyakan peneliti tentang hubungan masyarakat Madura dengan ternak, menekankan rumor bahwa para lelaki dapat memberi perhatian lebih kepada sapi ternaknya daripada istri mereka. Pencurian sapi atau segala hal yang membuat cacat sapi dalam kasus ini dianggap sebagai pelanggaran serius layaknya perzinahan/perselingkuhan, yang selalu berujung pada carok, pembunuhan. Para lelaki menunjukkan rasa perhatian yang besar untuk sapi jantan mereka. Mereka dianggap sebagai ‘sahabat seperjuangan’ dan diperlakukan layaknya manusia, tak jarang sebagai teman bicara, dan tempat berkeluh kesah. (Thomas,1983: 93-100).

Mereka menolak ternak mereka untuk dikebiri, meskipun pengebirian bisa meningkatkan kontrol pada tenaga sapi saat bekerja (membajak sawah), menambah kegemukan pada daging, dan kontrol pada perkembangbiakannya. Sapi jantan yang dikebiri dianggap sebagai hewan yang cacat tak lengkap, jelek dan kehilangan kegesitannya, sehingga dengan demikian nilai simboliknya berkurang (lihat Kok, 1921: 31).

Pentingnya sapi, terutama sapi jantan, terlihat dari munculnya hewan-hewan ini dalam cerita lokal, peribahasa, dan ukiran kayu yang menggambarkan sosok sapi jantan, dan tanduk-tanduknya menjadi hiasan yang melekat di rumah-rumah tradisional. Karakteristik seorang laki-laki sering ditunjuk dengan istilah yang merujuk pada figur sapi jantan. Sementara di lain daerah nama binatang ini acap diidentikkan sebagai umpatan verbal, di sini, sapi adalah ungkapan kebanggaan/kesayangan (lihat Leach, 1964).

Metafor indah tentang kuatnya hubungan sehari-hari orang Madura dengan sapi sering dibaca lain oleh orang luar, terutama pandangan dari masyarakat Jawa dan Bali. Secara fisik mereka membaca bahwa orang Madura mewakili sosok sapi jantan yang pongah, kasar, agresif, terlalu bersemangat, keras dan tak berbudaya, yang oleh orang luar dilambangkan dengan banteng/sapi jantan, yang mana bagi orang Madura adalah hewan yang sarat makna.

Selubungsabit-kepalasapi

Selubung sabit dalam bentuk kepala sapi

Stereotip ini disebabkan oleh tatanan kepemukiman masyarakatnya yang memang berbeda secara signifikan dengan orang Jawa maupun Bali. Pola pemukiman penduduk di Madura lebih bersifat tersebar dalam kelompok-kelompok perdusunan kecil dengan hubungan keluarga sebagai faktor pengikatnya. Desa bukannya dibentuk oleh suatu kompleks pemukiman penduduk dan dikelilingi oleh persawahan. Hal ini membuat kontak sosial antar-warga menjadi cukup sulit, sehingga tidak aneh bila orang-orang di Madura relatif sulit membentuk solidaritas desa yang terintegritas baik dengan pemerintahan. Selama berabad-abad mereka memiliki hubungan antagonisme dengan lapisan atas masyarakat mereka/pemeritahan, tidak aneh jika kemudian mereka memilih untuk menegakkan hukum di tangan mereka sendiri (De Jonge, 1986). Perbedaan masalah biasanya diselesaikan secara terbuka dan langsung atau diselesaikan dengan kekerasan oleh mereka yang terlibat. Masyarakat Madura umumnya memiliki harga diri yang tinggi untuk dipertahankan. Perselingkuhan, pencurian, dan perilaku menghina, dalam banyak kasus menjadi penyebab kekerasan fisik. Tak perlu menunggu satu minggu untuk sekedar membaca berita tentang kekerasan balas dendam di koran pagi.

Sejarah dan Organisasi Aduan Sapi

Sejarah yang melatar belakangi permainan adu hewan di Asia Tenggara, sangatlah minim. Bishop (1925) berpikir permainan ini awalnya merupakan bagian dari ritual untuk memohon kesuburan tanah dan produktivitas hasil bumi. Pandangan ini mirip dengan yang diungkapkan oleh Kreemer (1956: 89-90), yang percaya bahwa dalam banyak permainan aduan sapi di Indonesia dimaksudkan untuk menenangkan para dewa hujan. Di Jawa Timur, saya sering mendengar pernyataan bahwa aduan sapi awalnya diselenggarakan untuk menandai transisi dari musim kering ke musim hujan.

Menurut Bishop (1925: 633), berbagai bagian dapat dibedakan dalam pola dasar pada ritual, seperti pelatihan pada sapi/banteng, sistem pertarungan, pawai prosesi pemenang, sesembahan pemotongan sapi pemenang, acara makan daging bersama, dan peletakan tanduk pada ujung tombak.

Beberapa bagian dari ritual itu dapat ditemukan pada adu sapi/banteng Madura. Namun, di Madura sapi pemenang tidak dikorbankan. Acara makan-makan ditiadakan, kalaupun ada, tidak langsung setelah pertandingan, tanduk sapi tidak digukan untuk ritual apapun, meskipun secara tidak langsung mereka menganggapnya sakral.

Kreemer (1956: 89) berpendapat, permainan adu hewan di Indonesia cenderung sebagai upacara pemohonan hujan. Darah yang tumpah melambangkan air hujan. Van der Plas (1920-21: 741), yakin bahwa pada balapan kerbau di pulau Kangean, pemukulan dan pemecutan kerbau di awal balapan bertujuan untuk itu. Pada kerapan sapi di Madura, joki memacu sapi menggunakan tongkat yang diselipi paku untuk mempercepat larinya. Tentu saja menyebabkan luka pada sapi. Sementara, pada adu banteng di Jawa Timur, tidak pernah luka pada hewan disebakan oleh manusia, murni disebabkan oleh pertarungan kedua hewan.

Bisa jadi, karena aduan banteng di Jawa Timur tidak disertai suatu proses ritual yang sakral. Sehingga bisa dipentaskan pada acara penting, seperti; upacara peralihan hidup (sunat dan pernikahan), pada garebeg atau hari raya keagamaan Islam (Idul Fitri, akhir puasa; Idul Adha, hari kurban; dan Maulud, hari kelahiran Muhammad), atau pada hari libur nasional seperti Kemerdekaan RI. Arena aduan biasanya ditempatkan di lapangan di dusun dan desa-desa, perkebunan, dan kota-kota. Penyelenggaranya bisa berasal dari individu, swasta, perkumpulan, dan pemerintah.

Pada tahun 1930-an pemerintah kolonial pernah membatasi penyelenggaraan aduan sapi karena sering menimbulkan kerusuhan. Dengan banyaknya putaran uang yang dipertaruhkan, tak jarang aduan sapi ditujukan hanya untuk menggelar arena judi dan tak jarang pula menyebabkan perkelahian dan kekerasan. Aduan sapi tidak hanya pertarungan antara sapi, tetapi juga persaingan antara pemilik, musuh bebuyutan, golongan, desa, daerah, dan kota. Harga diri dan status individu maupun kelompok dipertaruhkan pada ajang ini.

Sejak tahun 1934 dan seterusnya, penyelenggrakan aduan sapi diwajibkan memiliki izin bupati. Pelaksanaannya pun diharuskan di alun-alun kota, sementara penyelenggaraan di desa-desa dianggap ilegal, melanggar aturan. Setelah Indonesia merdeka, pihak kepolisian mengambil alih peraturan ini. Pada tahun 1960an jumlah aduan ilegal menjamur secara dramatis, diikuti laku kerusuhan yang juga meningkat. Aduan sapi semakin menjadi dominasi elemen kriminil, sehingga memunculkan protes para ulama terhadap perjudiannya. Menanggapi situasi tersebut pemerintah daerah memutuskan untuk mengatur penuh seluruh pelaksanaan aduan sapi dan memusatkannya di Bondowoso.

Panitia khusus dibentuk untuk menangani keamanan dan proses administrasi perlombaan. Penyelenggara teknisnya dipercayakan secara profesional kepada pihak swasta atau sebuah kongsi, perkumpulan pengusaha yang juga pemilik sapi aduan. Dalam sepuluh tahun terakhir, Poa Tiong, alias Hendra adalah salah satu nama terkemuka dalam bisnis aduan ini. Sebelum dia, ada nama Swam Bing yang lebih dulu dikenal. Penyelenggaraan aduan ini terbukti menjadi bisnis yang menggiurkan. Anggota kongsi, seperti terlihat dari nama-nama anggotanya merupakan peranakan, atau keturunan pernikahan imigran Cina dengan perempuan Madura. Peranakan Madura-Cina ini (yang telah menjadi penduduk asli bukan peranakan Tionghoa Indonesia dari tempat lainnya di Jawa) tinggal di kota-kota di pantai utara daerah ujung timur, terutama Pasuruan dan Besuki. Seorang dari mereka mengatakan kepada saya, “Orang-orang ini memiliki warisan naluri bisnis orang Cina, kegemaran pada sapi jantan dari Madura, dan kegemaran untuk berjudi dari keduanya.”

Sampai saat ini, kongsi yang menjadi penyelenggara menyewa sebidang tanah di Bondowoso, di dataran tinggi perbatasan Gunung Ijen dan Gunung Yang. Panggung arena dan tribun didirikan. Pada tahun 1987 sebidang tanah dibeli di Desa Kademangan, pertengahan antara Bondowoso dan Situbondo. Tujuannya untuk dijadikan arena aduan sapi di tahun berikutnya.

Campur tangan pemerintah tak sepenuhnya berhasil seperti yang diharapkan. Aduan ilegal masih terjadi, dan terus menimbulkan masalah kekerasan, sehingga penyelenggaraan permainan ini menjadi perdebatan di meja anggota parlemen daerah (DPRD II). Partai Islam, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sepakat menentang hiburan ini, sementara Golkar, partai pemerintah, dan pimpinan militer setempat tetap mendukung keberadaannya. Pernah terjadi, seorang komandan polisi setempat, Jacky Mardono, dimutasi ke daerah lain karena melakukan pelarangan sementara penyelenggaraan permainan ini, meskipun punya alasan untuk menekan tingkat kriminalitas (Tempo 27/9/1986). Setelah huru-hara Petrus -pembunuhan misterius terhadap penjahat di Jawa beberapa tahun yang lalu- baik kriminalitas dan jumlah aduan sapi ilegal berkurang. Baru-baru ini, sesuai dengan keinginan masyarakat, aduan sapi diselenggarakan dua kali di luar Bondowoso: sekali di Klakah dan sekali di Banyuwangi. Hasilnya mengecewakan, aduan sapi di kedua tempat tersebut terhenti oleh keributan penonton.

Setiap tahun, selama musim kemarau, antara Juni dan November, pertandingan diselenggarakan selama 28 hari, tersebar dalam tiga belas minggu. Hingga sekarang, serangkaian aduan terpisah dilaksanakan setiap hari. Kedepan, pemerintah berencana untuk mengubah sistem kompetisi antara berbagai kategori sapi, meskipun tidak yakin akan terlaksana. Masyarakat pun tampak tidak tertarik dan lebih memilih mempertahankan sistem pertandingan yang sudah ada.

Arena aduan merupakan hamparan tanah lapang berdebu seluas setengah lapangan sepak bola. Dikelilingi tribun bertingkat dengan tempat duduk dari bambu. Sementara untuk juri, tamu undangan, pemilik sapi dan penjudi besar disediakan tiga tribun khusus, masing-masing terpisah. Di bawah tribun juri terdapat area untuk pemain gamelan, diiringi penari perempuan. Semua panggung-panggung tersebut dikelilingi pagar berduri dan bambu sebagai pelindung.

Hari pertandingan diumumkan melalui selebaran pamflet yang disebar di pasar-pasar sapi. Pemilik boleh mendaftarkan hewan mereka melalui perantara perwakilan tiap kongsi. Permainan aduan sapi sangat terkenal di sepanjang kawasan pesisir ujung timur pulau Jawa, meliputi Bondowoso, Jember, Situbondo, Besuki, hingga Probolinggo bagian timur. Walaupun aduan ini hanya dipusatkan di Bondowoso, jumlah penonton yang datang bisa mencapai 3000 orang.

Pamflet mengumumkan aduan sapi

Pamflet mengumumkan aduan sapi

Panitia memperkiraan terdapat ribuan sapi aduan di Jawa Timur, di mana sekitar 1400 di antranya bisa ikut bertarung lebih dari satu kali tiap tahunnya. Sapi peternak tidak dimasukkan karena ajang ini dapat mempengaruhi kondisi tubuh sapi. Banyak terdapat potensi sapi-sapi jago sebagai peserta namun tidak selalu bisa turun bertanding tiap minggunya. Tidak mudah mencari lawan. Karena alasan ini, sapi jago yang sering menang hanya diikutkan pada partai tertentu saja, pilih-pilih partai. Reputasi harga diri dan kedudukan sosial kedua pemilik sapi akan dipertaruhkan dalam ajang ini. Pemilihan hari pertandingan menjadi sangat rumit. Peranakan Madura-Cina memilih hari dengan mengacu pada kalender berzodiak hewan. Seharian penuh mereka akan menerawang peruntungan sapi dari lekuk tulang dan kepala yang menyerupai bentuk perwujudan kucing. Sedangkan orang Madura asli mempercayakan peruntungan mereka pada kalender lokal.

Pemilik sapi dan penonton aduan ini rata-rata semuanya orang Madura. Sapi-sapi dengan ukuran kecil dan sedang umumnya kepunyaan para petani. Sedangkan, sapi berukuran besar adalah kepunyaan oleh para juragan tembakau dan keluarga pedangang keturunan Madura-Cina. Yang bersangkutan biasanya merupakan anggota atau pendiri kongsi. Peruntungan usaha dagang mereka bergantung pada popularitas sapi aduan mereka. Naik-turunnya prestasi sapi menjadi pembicaraan sehari-hari, seperti membicarakan bintang film dan striker klub sepakbola favorit. Orang-orang akan mengikuti perkembangan para pemilik sapi. Para penyelenggara besar sudah pasti memiliki hubungan dekat dengan pihak pemerintahan dan otoritas militer. Tak jarang mereka mendapatan kontrak penyelenggaraan event dengan menyertakan uang pelicin terlebih dahulu. Dari segi periklanan sering dilirik oleh pihak sponsor seperti dari perusahaan rokok Gudang Garam dan Sukun.

Pada pemberian nama pada sapi aduan, kebanyakan nama-namanya mengindikasikan pandangan dan pengharapan orang Madura pada sapi mereka. Contohnya, Sabar (patient), Untung (fortune), Sifat (quality), and Langsar (clever). Ada juga member nama Colok (torch), Pecut (whip), Keong (snail), Senter (flashlight), Topeng (mask), Tembak (shot), Suntik (injection) dan Pelor (bullet).
Rata-rata penontonnya adalah golongan laki-laki dewasa dan remaja. Hanya pada tribun khusus bisa dijumpai anak perempuan dan istri yang diajak oleh para tamu undangan atau pejabat setempat. Permainan ini tidak terlalu digandrungi di luar masyarakat Madura. Seperti yang dikatakan sebelumnya, orang Jawa masih melihat rendah mereka. Orang Madura dinilai keras, kasar, gampang marah, dan suka berkelahi. Aduan sapi sering diidentikkan sebagai ekpresi kekerasan budaya tersebut. Namanya kian buruk seiring dengan maraknya unsur perjudian dan kerusuhan yang terjadi.

Pada masa kolonial, tak jarang aduan dihadiri oleh tamu asing yang menjadi tamu istimewa. Di salah satu halaman koran Belanda De Masboode pernah menampilkan liputan tentang pertandingan ini: ‘Pada ajang ini -adu kekuatan besar dan kemarahan binatang- menyajikan antraksi kebrutalan nan keji, keganasan dan kekejaman, serta kegesitan sapi, di samping juga para manusianya yang pemberani’. Sementara penontonnya digambarkan ‘berwajah kejam nan bengis, dengan tatapan mata tajam di atas tulang pipi yang lebar dan rahang menyerupai binatang pemangsa’.

Baru-baru ini, aduan dibuka oleh ajang kontes hewan ternak, termasuk sebagai ajang penilaian pemenang kontes peternakan bibit sapi terbaik se-kabupaten, dan dikenal sebagai kontes sapi. Kontes ini diadakan untuk memperbaiki imej aduan sapi yang terlanjur dinilai negatif dan menegaskan komitmen pemerintah terhadap program peningkatan kesediaan pasokan hewan ternak. Bermacam kesenian tari tradisional juga dipentaskan. Salah satu yang terkenal ialah tari pecut dan tari selir sapi. Kedua tarian ini menampilkan koreografi menirukan gerakan aduan sapi.

Setelah pembacaan susunan acara, sepasang sapi digiring memasuki arena secara seremonial, lengkap dengan iringan musik orkestra, kibaran bendera merah putih, dan sebuah tombak dengan buah papaya tertancap pada ujungnya (sebagai pengganti tanduk) dan payung, lambang kesetian. Upacara dalam parade karnaval ini menggambarkan penghormatan atas ketergantungan masyarakat Madura pada hewan yang satu ini: sapi.

Pembiakan, Cara Melatih dan Merawat Sapi Aduan

Berbagai jenis sapi diikutkan dalam aduan. Banyak diantara mereka adalah hasil persilangan dari jenis sapi lokal atau banteng (Bos javanicus) dengan sapi Zebu (Bos indicus) dari India Selatan dan Sri Lanka, antara sapi Eropa (Bos taurus) dengan jenis zebu, atau antara sapi Eropa dengan sapi lokal (lengkapnya lihat Simoons dan Simoons, 1968: 14-13) Di antara varian sapi-sapi ini, sapi Madura merupakan jenis paling unggul. Sapi ini, seperti kebanyakan jenis sapi Jawa, merupakan hasil persilangan antara zebu dan banteng. Karena faktor letak geografisnya yang terisolasi, faktor cuaca dan ekologi, serta pembatasan impor sapi dari luar yang diterapkan sejak masa kolonial, menjadikan sapi Madura masih terpelihara keasliannya. Berbeda dengan sapi Jawa, yang sejak dulu terlalu luas penyebarannya sehingga ras asli mereka kian memudar. Sementara untuk sapi pedaging, sapi Zebu dan Bali merupakan primadona. Sapi Bali (Bos javanicus domesticus) adalah keturunan langsung dari banteng liar. Sapi Eropa yang didatangkan dari Australia atau Selandia Baru sangat jarang dijumpai di arena aduan ini.

Sapi aduan dipilih dari kualitasnya. Mereka diseleksi dari varian yang tersedia di Jawa dan pulau-pulau sekitarnya, terutama Madura, Bali, Lombok, dan Sumba. Selain itu, sapi jantan memang sengaja dibiakkan untuk menjadi sapi petarung. Persilangan diharapkan bisa meningkatkan kemampuan bertarung dari hewan tersebut. Yang aneh dari banyaknya varian-varian yang disilangkan dalam proses pembiakan tersebut jarang sekali benih dari sapi juara dilibatkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah stamina sapi tersebut tetap terjaga. Proses persilangan kadang juga bisa menghasilkan keturunan sapi jantan yang steril (Simoons dan Simoons, 1968: 28-30). Jikapun sapi aduan difungsikan untuk pembibitan, akan dilakukan di luar musim aduan, sekedar upaya untuk memuaskan birahi sapi atau menerima permintaan pemilik sapi betina yang ngebet kawin. Sebagai penambah asupan sperma, sapi juga diberi beberapa butir telur ayam sebagai stimulan.

Tiap varian sapi memiliki kualitas tertentu yang menjadikannya cocok sebagai sapi aduan. Sapi Madura misalnya, mereka berpostur tubuh kecil namun tegap, dengan otot yang liat, kepala pendek nan kokoh yang ditopang leher bidang dengan punuk di punggungnya. Tanduk yang pendek namun lebar. Posisi tanduknya variatif karena memang sengaja diarahkan sedari mereka masih muda. Sapi ini begitu agresif saat menyerang atau menyeruduk lawan dari depan atau belakang.

Sapi Zebu memiliki kaki-kaki yang lebih panjang sehingga pada saat melakukan penyerangan, kepala mereka berada sangat rendah. Mereka berpostur lebih panjang dengan badan yang padat serta memiliki tanduk yang panjang dan lebar. Sapi ini tidak terlalu agresif, bahkan terlihat lamban. Namun sapi Zebu memiliki stamina yang tahan lama dan canggih dalam menggunakan tanduk mereka. Sapi Zebu dapat mendorong lawan dari ujung lapangan hingga ujung lainnya.

Sedangkan orang luar beranggapan bahwa sapi Bali merupakan jenis yang sempurna sebagai sapi aduan. Postur tubuh yang proporsional berbalut kulit coklat kehitaman, dan putih di bagian belakang sampai kaki. Sapi Bali memiliki dada yang dalam dan tubuh yang padat. Tanduknya tumbuh melebar ke arah luar kepala. Sehingga mirip dengan banteng liar yang terdapat di hutan lindung di Jawa, namun dengan bobot tubuh lebih kecil. Di antara pemilik sapi, sebetulnya mereka tidak berharap sapi-sapi dari jenis khusus dan istimewa. Yang mereka inginkan hanyalah sosok sapi petarung, pemenang, dan jawara, apapun asal variannya.

Dalam satu arena jarang sekali dijumpai pertarungan sapi dari varian yang sama, apalagi di pertarungan kelas berat. Orang yang disebut ahli sapi -dan bisa ngoceh tanpa henti mengenai sapi- berpandangan bahwa sapi dari jenis sama tidak boleh saling bertarung. Saya tidak menemukan bukti dan melihatnya terjadi saat aduan. Pandangan ini bisa memiliki makna simbolik: bahwa seseorang tidak boleh bertarung dengan anggota kelompoknya sendiri melainkan dengan orang luar. Hal ini juga menunjukkan bahwa pertarungan antara sapi beda varian lebih menarik untuk ditonton. Dengan begitu menciptakan kombinasi visual pertarungan yang berkesan atraktif dan indah, misalnya jenis Zebu yang tampak lamban dipasangkan melawan sapi Madura yang beringas, atau sapi Eropa yang besar nan kokoh dipasangkan melawan sapi Bali yang elegan.

Perawatan dan pelatihan sapi aduan kepunyaan pemilik yang bukan petani, biasanya dipercayakan kepada beberapa penjaga. Mereka, biasanya petani, rata-rata menangani dua atau tiga ekor sapi dari seorang juragan atau kongsi. Seorang penjaga tidak pernah menangani perawatan sapi dari dua orang berbeda. Karena bila itu terjadi, akan mudah muncul kecurigaan dan kecemburuan satu sama lain. Umumnya sapi-sapi yang mereka rawat berada dalam tahap perkembangan yang berbeda-beda, misalnya seekor sapi dewasa dengan beberapa sapi yang lebih muda. Semua ditempatkan pada kandang terpisah, untuk menghindari perkelahian. Mereka yang memiliki sapi aduan dengan jumlah banyak otomatis memiliki penjaga banyak pula.

Perawatan sapi aduan memakan seluruh waktu dan tenaga seluruh anggota keluarga petani. Untuk menghindari kecurangan pihak lain, seperti mencederai atau meracuni sapi, dan untuk menjamin keamanan tetangga, sapi akan terus-menerus diawasi. Kandangnya dibersihkan setiap beberapa jam, dan sapi-sapi tersebut dimandikan dan disikat satu atau dua kali setiap harinya. Setiap pagi seluruh tubuh mereka dipijat dengan tangan dan kaki. Bagian punggung dipijat oleh anak laki-laki yang bergantung pada dahan pohon. Bila cuaca terlalu panas, sapi akan dipindahkan ke tempat yang lebih teduh. Setiap harinya para wanita mencari rumput segar kemudian dicampur dengan daun jagung, berbagai kacang-kacangan dan singkong. Pakan ini secara teratur diberikan dengan tambahan tonik dan herbal lainnya (jamu). Seorang penjaga di Desa Jelbuk memberi sapi-sapinya campuran rebusan daun sirih, gula aren, air, kunyit, jahe dan telur setiap minggu. Saat cuaca dingin, ia memberi sapi-sapi aduan tujuh sampai sembilan telur ekstra. Potongan gula dan labu diberikan pada sapi yang sedang panas, atau birahi.

Serang penjaga juga berperan sebagai pelatih. Ia mulai melatih dan mengasah tanduknya sejak sapi berumur beberapa bulan. Sejak usia enam bulan sapi dilatih untuk berjalan menanjak setiap hari. Semakin dewasa usia mereka maka semakin jauh jarak yang harus mereka lalui. Sekali-sekali mereka diberi beban kantong pasir seberat 50 kilogram pada leher mereka. Metode latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dan stamina pada sapi. Ketika sapi sudah memasuki usia 2 sampai 3 tahun, mereka dilatih bertarung dengan sapi lainnya setiap dua minggu sekali. Selama latihan tarung ini, sapi dikendalikan dengan sebuah tali yang dipasangkan pada hidung mereka. Masing-masing sapi diarahkan oleh dua orang, yang disebut tokang selir. Setelah masuk usia 3,5 tahun, sapi sudah siap untuk mengikuti aduan sebenarnya. Jika berjalan dengan baik, mereka bisa matang menjadi sapi petarung pada usia 5 atau 6 tahun. Sapi yang terlatih dengan tekun bisa berlaga di kelas atas setidaknya selama 5 sampai 6 tahun. Setelah itu kekuatan dan daya tahan mereka akan menurun. Tentu saja hanya sebagian kecil dari sapi yang bisa masuk kelas jago.

Pemilik sapi secara teratur mengunjungi sapi-sapi mereka dan menghadiri semua latihan tandingnya. Mereka akan membawa obat-obatan tradisional atau ginseng, membahas kondisi sapi serta berspekulasi tentang masa depannya. Seorang penjaga menerima upah atas pekerjaannya atau akan diberikan setengah dari nilai hewan ketika dijual. Dengan sistim adegan (bagi hasil) ini pemilik bertanggung jawab akan biaya-biaya tetap maupun insidentalnya, sementara petani dan keluarganya hanya menyediakan tenaga mereka untuk merawat. Jika pemilik kelak tidak ingin menjual sapinya, petani bisa meminta setengah dari nilai jual sapi untuk dirinya dan tetap mendapatkan upah. Peningkatan nilai jual sapi sungguh menguntungkan. Seekor sapi jantan muda bisa dihargai empat kali harga awalnya sesudah dilatih selama satu tahun.

Sapi yang sukses di arena aduan akan mempunyai harga jual yang sangat tinggi. Bagi beberapa pemilik, perdagangan sapi di arena aduan lebih penting daripada pertarungannya. Mengikutsertakan sapi-sapi ke arena aduan adalah merupakan sarana yang baik untuk menggaet para pembeli. Pemilik tertentu tidak menjual sapi mereka dengan harga berapapun. Pada ujung karirnya, si sapi biasanya disembelih dan dagingnya didistribusikan kepada tetangga dan orang-orang terdekatnya. Sesembahan daging si sapi meningkatkan status si pemilik. Dengan cara ini si pemilik dapat berbagi kekuatan magis dan gaib yang dipercaya terdapat pada daging sapi. Mungkin ini adalah versi perayaan makan-makan bersama yang tertunda yang dimaksud oleh Bishop (1925: 633)

Hubungan antara pemilik dan penjaga sapi adalah kepercayaan. Pemilik berperan sebagai patron bagi keluarga yang tinggal dengan sapinya siang dan malam. Dia akan mendukung mereka secara finansial di masa-masa sulit atau mungkin membeli sebidang tanah ladang yang bisa mereka kelola. Bagi mereka, seorang penjaga yang terpercaya tak ubahnya senilai emas.

Persiapan Sebelum Pertandingan

Pada hari-hari mendekati pertandingannya, sapi-sapi mendapatkan perlakuan istimewa. Mereka mendapatkan jatah telur lebih banyak, tonik, makanan penambah stamina, dan bahkan makanan dan rempah-rempah yang biasanya hanya diperuntukkan untuk manusia. Tetangga dan kenalan berdatangan untuk membantu persiapan akhir termasuk menginap untuk menjaga si sapi.

Pada titik ini, seolah-olah batasan antara manusia dan sapi tampak samar. Sapi dibicarakan dengan nada ramah dan bersahabat, dibelai dan dipijat. Seorang dukun diminta untuk mencegah serangan ilmu hitam, dan sesajen disembahkan pada tempat-tempat kramat untuk menenangkan roh-roh. Sering utusan pemilik sapi melakukan ziarah ke makam orang suci setempat. Kiai, atau pemimpin agama, dimintai doa untuk keberhasilan pertandingan. Biasanya, mereka memberikan doa-doa berhuruf Arab di atas selembar daun yang harus dimakan oleh sapi. Di dalam kandang, sebuah ‘lampu penerang’ harus dinyalakan sepanjang malam sebelum pertandingan sebagai penangkal sihir jahat yang mengancam sapi.

Seminggu sebelum pertandingan, tiap malam sering diadakan selamatan dan acara makan-makan untuk si sapi. Acara ini dihadiri oleh para laki-laki dan remaja setempat. Persiapan makanan dilakukan oleh para wanita dari semua keluarga. Pada malam tersebut, mereka yang datang mengungkapkan kekaguman dan pengharapan mereka pada si sapi, mengutarakan sanjungan, dan berjanji untuk bertaruh pada dirinya. Jika sapi kepunyaan petani kecil, maka uang akan dikumpulkan untuk taruhan bersama. Semakin besar kepercayaan pada sapi, semakin besar pula ketergantungan para petaruh pada pemiliknya. Perlu diingat bahwa pada saat itu lawan sapi masih belum diketahui. Pada hari-hari sebelum pertandingan, antrian panjang terlihat di depan kantor pegadaian, sedangkan toko-toko emas (banknya wong cilik) di kota ramai didatangi oleh orang-orang yang ingin menukarkan perhiasan untuk modal taruhan (lihat Tempo 27/9/1986).

Orang-orang tetap terjaga sampai truk panitia aduan datang untuk menjemput sapinya. Rombongan kecil mengikutinya dari belakang menuju arena. Rombongan ini terdiri dari pemilik, penjaga, tokang selir, pembantu, dan beberapa anak laki-laki mereka. Sementara yang lainnya menyusul secara terpisah. Untuk memeriahkan malam di lapangan, beberapa pemilik kadang menyewa seorang penghibur. Bisa seorang pelawak, atau pemain alat musik, penyanyi atau penari.

Sapi-sapi diletakkan pada kandang dari anyaman bambu yang terletak di sekitar arena. Kelompok pengikutnya akan tinggal bersama dengan sapi mereka. Seperti yang digambarkan Jacob (1984: 83) melalui seorang karakter dalam salah satu novelnya mengatakan, ‘meninggalkan sapi aduan sendirian sama berbahayanya dengan meninggalkan seorang perawan tanpa pengawasan… Semua mata jalang tertuju pada keduanya’. Para petugas biasanya mencuci di sungai atau di sumur dan makan di warung-warung yang menjamur di sekitar lapangan. Pemilik kaya biasanya menyewa rumah dekat arena, untuk menempatkan sapi dan para pengikutnya.

Sebelum pertandingan, para pemilik dan penjaga sapi akan berziarah ke makam Ki Ronggo di Bondowoso. Ki Ronggo dianggap sebagai penemu permainan aduan sapi. Mereka memberikan sejumlah uang ke pengurus makamnya, membakar dupa, dan bermeditasi untuk meminta wangsit, atau izin untuk mengikuti pertarungan dan pemberkatan.

Selain kandang-kandang sapi, banyak warung makanan bermunculan di sekitar lapangan. Ratusan pedagang, dari pedagang musiman sampai penjaja keliling semuannya mencoba menjajakan barang dagangan mereka -dari telur, sepatu, buah-buahan, alat-alat pertanian, manisan, dan mainan- tentu saja dengan harga dua kali lipat dari biasanya. Sasaran mereka tentu saja adalan mereka para pemenang judi yang rakus.

Pada malam dua hari sebelum aduan, terdapat pasar malam yang diadakan di sekitar lapangan. Penjual jamu berlomba kecerdasan dalam adu mulut untuk menarik pembeli. Selalu mengesankan bahwa di lingkungan yang dominan laki-laki ini penjualan obat penambah stamina kelelakian menjadi sangat laku. Dari pihak penyelenggara juga menyiapkan tontonan ludruk, semacam seni pertunjukan cerita rakyat yang sengaja dibubuhi lakon mesum. Tokoh perempuan diperankan oleh laki-laki. Tak jarang para penonton yang terhibur naik ke atas panggung untuk sekedar memeluk tokoh wanita jadi-jadian ini sembari menyelipkan uang saweran pada korset mereka. Sepanjang malam ini, prostitusi ini juga merajalela. Para pelacur tahu persis siapa-siapa yang memiliki banyak uang, dan secara terang-terangan mereka menawarkan jasanya pada mereka. Munculnya para wanita-wanita semacam ini di tengah kemaskulinan ajang aduan sapi, membuat mereka tergoda untuk memuaskan hasrat kelelelakiannya. Apa boleh buat!

Pertandingan

Pertandingan dimulai pukul delapan pagi sampai senja tiba. Dibuka dengan upacara persembahan sesaji membakar dupa untuk keselamatan semua. Berikutnya, drum kayu ditabuh untuk memanggil semua peserta agar memasuki arena gandengan, arena untuk memilih lawan tanding. Sekitar 30-40 sapi dipentaskan pada arena ini. Untuk sapi juara bertahan atau sapi jago tidak perlu mengikuti arena ini. Biasanya seminggu sebelum pertandingan mereka telah mendapatkan lawan. Arena percocokan ini bisa dilakukan dua hingga tiga kali sesuai lamanya penyelenggaraan berlangsung.

Dalam mencari lawan tanding biasanya yang dilihat antara lain ukuran, tinggi, berat, besar tanduk dan garis keturunan dari sapi. Banyak dari anggota kongsi bertindak sebagai tokang atek (comblang) dalam arena gandengan. Setelah kesepakatan tercapai, mereka akan melaporkannya kepada juri, dan kemudian ‘uang sewa lapangan’ dibayarkan sebesar Rp.1000. Di samping uang sewa lapangan tersebut pemilik juga harus membayar tambahan uang kontribusi keanggotaan, jumlah nominalnya tidak tetap dan dirahasiakan. Saya mendengar bahwa untuk sapi tak berpengalaman ditarik biaya sekedarnya, sedangkan bagi sapi juara jumlahnya mengikuti persentase pasar taruhan. Setelah prosesi gandengan selesai, juri mengatur urutan pertandingannya. Para juri sangat hati-hati untuk menghindarkan pertarungan yang timpang. Bukan hal mudah untuk memasangkan sapi dengan lawan yang seimbang. Kadang mereka harus pulang ke rumah tanpa bertanding karena gagal menemukan musuh yang cocok.

Sebelum aduan dimulai, bagian kepala sapi ditutupi. Sebuah kalung dengan lonceng digantungkan pada lehernya, dan dilengkapi hiasan bunga dari kertas. Tanduknya yang sengaja dicat warna emas atau perak kemudian dipoles supaya lebih mengkilap dan tajam. Jamu-jamuan diberikan, seperti telur, minuman beralkohol (wiski atau brandy) dan salep, seperti remasol atau sambal dioleskan pada bagian telinga dan alat kelaminnya.

Setelah tiba saatnya sapi digiring memasuki arena oleh beberapa pengiring, mereka terdiri dari tokang selir, penjaga dengan asistennya, dan kadang juga si pemilik. Apabila si sapi ragu-ragu atau enggan masuk arena, mereka menggunakan sapi betina sebagai pancingan. Momen masuknya sapi ke dalam arena ini sangat mengesankan. Para penonton bersorak menyambutnya bak pahlawan. Pertama-tama, sapi ditempatkan pada titik dekat pagar pembatas sesuai anjuran sang dukun. Sambil menunggu pertandingan dimulai, mereka berbicara pada sapi supaya membuatnya lebih tenang dan sesekali mereka memijit bagian telinga dan alat kelaminnya. Beberapa orang mengambil air liur si sapi untuk dioeleskan pada wajah mereka. Setelah keluar tanda pengesahan dari juri kepala, kedua sapi diperintahkan menuju ke tengah arena untuk pemeriksaan. Juri lapangan menciumi kulit kedua sapi untuk memastikan si pemilik tidak memakaikan salep yang tidak diperbolehkan. Kemudian tali hidung pada sapi dilepaskan. Tanpa tali tersebut menjadikan sapi menjadi buas, dan pertarungan segera dimulai.

Sapi yang terlatih akan langsung menyerang lawannya. Sapi jago bergerak maju menyerang secara gesit dan terukur. Suara dengusan dan dengkuran mereka menggema dengan tatapan tetap mengarah ke tanah. Pada saat inilah kedua kepala sapi saling menghantam keras. Juri lapangan mengangkat sapu tangan, juri kepala meniup peluit. Pertarungan pun benar-benar telah dimulai.
Keduanya saling menghantamkan kepala sekuat-kuatnya, berputar-putar, menyerang sebisa mungkin bagian musuh yang lengah dengan tanduk mereka. Bergeser dari kiri ke kanan, dari ujung satu ke ujung arena lainnya. Kadang, mereka berdiri bermenit-menit di satu tempat kemudian dengan cepat kembali saling hantam. Kaki-kaki menggeliat, otot-otot mengeras, kepala dan leher membentuk garis lurus. Debu berterbangan menyelimuti pertarungan. Di saat itulah kadang salah satu dari mereka terangkat ke udara kemudian terlempar ke tanah.

Pertarungan akan berakhir bila salah satu sapi, yang kalah, ekornya berdiri lurus di hadapan wajah lawannya. Apabila itu terjadi, tanpa perlu menyentuhnya pun si lawan bisa memenangkan pertarungan. Sapi yang ekornya sudah terangkat seperti itu akan membalik badannya dan lari sempoyongan. Penonton melihatnya sebagai tanda rasa takut dan malu. Sapi pemenang tetap berdiri gagah dengan kepalanya tegak pongah. Kadang ia akan mengejar lawannya yang lari tadi. Alunan gamelan menggema di telinganya.

Ada beberapa aturan main. Kadang sapi kehilangan konsentrasi dan menolak untuk melanjutkan pertandingan. Sapi yang pertama kali membelakangi lawan dapat dinyatakan kalah. Sapi yang sedang panas-panasnya bertarung sehingga tidak sengaja menabrak dan terpental ke luar pagar, masih diperbolehkan bertarung kembali. Kadang sapi terprovokasi oleh tokang selir-nya sendiri sampai ia menyerangnya dan kemudian melarikan diri, dan kalah. Jika sapi diprovokasi oleh tokang selir lawan maka pertandingan akan dihentikan dan sapi itu akan dinyatakan sebagai pemenangnya. Tentu semua kubu akan menghindari situasi seperti ini terjadi. Pada akhirnya apabila pertarungan telah berlangsung melebihi satu jam, pertandingan akan dihentikan. Pertarungan tersebut dinyatakan seimbang.

Tak semua pertarungan benar-benar berlangsung seru. Kadang ada sapi melarikan diri sebelum mereka benar-benar bersentuhan. Pertandingan pun seketika dihentikan. Sering pula terjadi di mana kedua sapi tiba-tiba terangsang dan berahi, sehingga tak lagi meneruskan pertarungan. Mereka saling menciumi dan menjilati satu sama lain. Tentu saja pemandangan ini mengundang tawa dan umpatan cabul dari para penonton. Bahkan para wanita pasangan tamu undangan pun terhibur dengan kejadian ini. Peristiwa ini dimaklumi. Selanjutnya, bila sampai menit ke dua sapi tidak saling serang maka pertandingan dibatalkan. Banyak ketentuan mengenai lama waktu pertarungan. Umumnya pertarungan berlangsung paling lama hingga sepuluh atau dua puluh menit. Jarang sekali terjadi partai draw pada tiap minggunya.

Sapi dan tokang selir

Sapi dan tokang selir

Tokang selir memegang peranan penting selama pertandingan. Pemilik sapi jago biasanya memiliki tokang selir pribadi, sementara pemilik sapi biasa rata-rata meminjamnya dari kongsi. Kedua pihak perlu berhati-hati dalam memilih tokang selir, terutama untuk memastikan mereka tidak pernah menjadi tokang selir pihak lain. Di setiap pertarungan, masing-masing sapi didampingi dua orang tokang selir. Mereka mengenakan ikat pinggang dengan warna berbeda dengan lawannya. Tugas mereka adalah mengarahkan tiap sapi agar tetap fokus untuk menyerang lawan. Mereka melakukannya dengan berteriak menirukan suara sapi, menggerakkan tangan mereka ke atas dengan irama yang berfariasi. Jarak tak lebih dari dua meter dari sapi. tak boleh melakukan gerakan tangan vertikal dan menakut-nakuti sapi lawan.

Tugas para tokang selir sangat sulit dan berbahaya. Mengendalikan sapi yang marah tidaklah mudah. Mereka dituntut selalu awas dan gesit. Sering mereka harus melompat ke atas pagar untuk menghindari sapi yang marah. Rata-rata mereka adalah usia paruh baya dan sudah terbiasa menghadapi sapi. Mereka sangat dihormati di lapangan. Sebagian dari mereka membekali diri dengan kekuatan magis. Bahkan ada pula yang memiliki ilmu kebal. Tokang selir yang bermain curang akan diberi teguran atau diganti. Mereka yang bekerja untuk pemilik sapi mendapat bagian dari hasil taruhan. Lainnya mendapat uang bayaran.

Selain si sapi, para tokang selir dan juri, anggota lainnya dari pengiring sapi juga berada di arena. Dengan penuh perhatian mereka mengikuti pertarungan dari jarak yang aman dan membawa atribut mereka. Seseorang terus membunyikan lonceng yang tadinya dikalungkan pada sapi dan memanggil-manggil namanya. Lainnya membawa tali kendali milik si sapi kemudian digesek-gesekkan pada lengannya. Ada juga yang meletakkan tali-hidung-sapi di antara giginya dan kemudian menariknya dengan kedua tangan hingga mengeluarkan liur. Gerakan ini dipercaya bagian dari ritual magis untuk tetap menjaga kebugaran sapi melalui perantara air liur si orang ketiga dengan si sapi.

Walaupun orang lain dilarang berada di dalam arena selama pertarungan, selalu ada saja beberapa orang yang masuk. Selalu menjadi sebuah kebanggaan tertentu untuk berdiri di dalam arena, pertanda bahawa mereka pemberani. Bila jumlah mereka sudah terlalu mengganggu maka pihak kepolisian akan mengusir mereka untuk keluar arena.

Pengendalian sapi yang kalah setelah pertarungan kadang menyodorkan sebuah tontonan yang berbahaya. Maka diperlukan seorang pengendali yang berpengalaman. Begitu sapi berhasil ditangkap segera tali-hidungnya dipasang kembali sehingga sapi menjadi kembali jinak.

Semakin terkenal nama sapi, semakin tinggi tensi ketegangan pada sebelum dan selama pertarungan, semakin tinggi pula jumlah taruhan yang beredar, dan semakin meriah pesta kemenangan dibuat. Sapi yang menang akan dipeluk, dielus-elus punggungnya, dan dipakaikan jubah kemenangan. Selendang atau ikat pinggang diikatkan pada tanduknya dan kalungan bunga dikalungkan di lehernya. Jubah dengan bordiran nama sapi berwarna emas dipakaikan pada punggung sapi. Untuk mengiringi momen ini, iringan musik gamelan dimainkan mengikuti parade sang juara menuju panggung utama. Di tengah perjalanan, mereka disambut para sinden yang menari dan melantunkan tembang secara gemulai. Para laki-laki terpancing untuk menari dengan gerakan erotis di tengah mereka. Ada yang melakukan gerakan tari seolah menyelipkan cambuk di tengah kedua paha dan kemudian melepaskannya ke atas. Meniru gerakan orang-orang di sekitarnya. Ada juga yang menirukan gerakan tukang selir yang berdiri di samping sapi. Para lelaki mencoba menempatkan tangan mereka di pinggul para sinden, sesekali mencoba mencubitnya dari belakang. Sudah barang tentu, pemilik sapi pemenang atau orang suruhannya akan menyelipkan uang di antara payudara sinden.

Perayaan kemenangan masih akan berlanjut di kediaman pemilik. Sapi akan disambut bak seorang nabi. Pengunjung masih ramai berdatangan hingga keesokan harinya. Jalannya pertarungan menjadi topik pembicaraan yang tak berujung. Mereka membahasnya lagi dan lagi dari awal hingga akhir. Rasa bangga dan kehormatan karena kemenangan menyebar ke seluruh desa.

Taruhan

Pada pintu masuk arena, terdapat sebuah papan besar yang bertuliskan himbauan larangan berjudi. Namun, bagaimanapun perjudian adalah bagian integral di tiap arena aduan. Kecuali di tribun utama, perjudian berlangsung di semua tribun. Penjudi kakap tersebar di tribun-tribun ini mewakili si pemilik yang berada di tribun utama. Bagi masyarakat Madura, di mana kebanyakan orangnya hidup dengan tekanan kesusahan ekonomi, judi hadir tak hanya sebagai arena penghibur lara. Perjudian mempunyai peran penting sebagai penggerak perekonomian. Juga termasuk cara mudah untuk mengumpulkan uang sebagai biaya pernikahan atau modal usaha. Dalam bahasa Madura judi ialah ‘taro’ yang berarti ‘menyimpan’ atau ‘memiliki simpanan’. Dalam hal ini, aduan sapi tak beda jauh dari aresan atau arisan, metode penyimpanan uang yang popular di Indonesia. Keduanya menjanjikan pengembalian uang dalam jumlah yang lebih besar. Pada perjudian memang tidak pasti, namun kesempatannya tetap terbuka lebar di mata mereka-mereka yang sangat membutuhkan uang.

Perjudian di arena aduan sapi tak jauh beda dengan perjudian yang berlangsung pada sabung ayam seperti yang diutarakan oleh Geertz (1973: 425-432). Di sini, pemilik sapi dengan pengikut atau kongsinya, bertaruh dengan pihak lawan dengan jumlah uang yang sangat besar dengan memakai sistim perbandingan satu banding satu. Sementara penjudi umum bertaruh tersebar pada tribun-tribun dengan skala jumlah taruhan relatif kecil, uang taruhannya paling sedikit Rp. 1000. Cara berjudinya jarang ditemukan satu banding satu, tetapi memakai perbandingan gasal seperti pada sabung ayam, dari 10:9, 9:8, 8:7, sampai 2:1. Namun pada perjudian aduan sapi beda angka perbandingan lebih besar seperti 3:10, 4:10, 6:10, 7:10 dan selanjutnya. Sehingga, kesempatan menang pada judi aduan sapi lebih terbuka.

Orang dapat menyebutkan taruhan mereka dengan dua cara: pertama dengan menyebutkan angka terendah, dan yang kedua dengan menyebutkan angka 10. Misalnya seseorang menyebut asor enam (bawah enam) dengan demikian berarti dia memilih angka enam dan lawannya harus memilih angka 10. Atau sebaliknya ketika seseorang menyebut atas enam (di atas enam) berarti ia memilih angka 10, dan lawannya harus mengambil angka 6. Sementara bagi yang memakai perbandingan 5:10 atau 1:2 istilah apit digunakan untuk menyebutkannya. Pendeknya, yang mengatakan asor (bawah), membayar lebih kecil bila kalah dan mendapat lebih besar bila menang, sedang yang mengatakan atas membayar lebih besar bila kalah dan mendapat lebih kecil bila menang, sesuai dengan uang yang dipertaruhkan. Tentu saja ketika membuat taruhan, orang diberi tahu dulu kondisi sapi yang bersangkutan (nama, warna, atau posisi dan bentuk tanduk) dan juga jumlah taruhannya. Misalnya, jika seseorang berteriak ‘asor Enam Rp. 1000 sapi merah’, berarti bila sapi merah menang, ia harus dibayar Rp. 10.000, dan bila sapinya kalah, ia harus membayar Rp. 6000.

Perbedaan lain dengan judi sabung ayam, taruhan ini bisa dilakukan pada saat pertarungan telah berlangsung. Bahkan bisa berubah meskipun peluit telah dibunyikan. Ini disebabkan dalam sabung ayam salah satu hewan bisa meninggal atau dikalahkan dalam waktu cepat, sementara di aduan sapi, pertarungan berlangsung dalam waktu yang lebih lama, sehingga ada banyak waktu untuk mengukur kekuatan masing-masing. Terutama dalam partai pertarungan sapi yang relatif tidak dikenal. Petaruh cenderung menunggu perkembangannya di lapangan. Beberapa orang bertaruh lebih dari satu taruhan, kadang-kadang berlawanan dengan taruhannya yang pertama untuk mengurangi risiko kekalahan yang lebih besar. Di antara kerumunan penonton ini selalu ada sejumlah penjudi profesional yang mencoba melakukan sebanyak mungkin taruhan dengan memakai uang sendiri atau uang bandar. Mereka tidak memutuskan menarik begitu cepat taruhan mereka walaupun sapi yang mereka pegang tampak akan kalah.

Cukup berbeda dari sabung ayam (tajen) di Bali, di mana suara taruhan mirip dengan suara dengung lebah, perjudian di aduan sapi dipenuhi teriakan yang riuh dan lantang. Namun nampaknya dari pengumuman yang dipajang di depan pintu masuk lapangan serta mulai tumbuhnya resistensi pada praktik perjudian di masyarakat, orang mulai merasa tabu untuk membicarakannya. Saat saya coba bertanya tentang ada tidaknya perjudian, saya diberitahu hal itu tidak ada. Ketika saya mencoba masuk tribun penonton umum, baik mendekati pihak pemilik maupun kalangan lainnya, mereka segera menyuruh saya untuk duduk di tribun tamu kehormatan.

Semua pembayaran taruhan diselesaikan langsung pada akhir tiap pertandingan, tanpa perantara. Kepercayaan dan pembayaran tunai, adalah dasar dari semua kesepakatan. Namun, adanya penjudi yang tidak mau membayar bisa menjadi faktor penyulut perkelahian. Dulu, sarung celurit mudah sekali terlepas, namun kini sejak adanya larangan membawa senjata tajam ke dalam arena, memungkinkan percekcokan bisa segera diselesaikan secara persuasif.

Kesimpulan

Dari awal sudah jelas bahwa sapi beperan penting dalam Kehidupan orang Madura. Hewan melayani manusia dalam menjalani hari-hari kehidupannya. Sapi menjadi jembatan yang membantu manusia beradaptasi dengan lingkungan alam tempat mereka tinggal, dan pada titik tertentu dengan dunia supernatural mereka. Ada benar apa yang dikatan Bishop (1925) bahwa aduan sapi awalnya merupakan bagian dari ritual untuk permohonan hasil panen yang baik, sehingga mereka bisa meneruskan hidup. Peralihan pola pertanian dari berpindah menjadi menetap, dan pengembangan ternak liar. Sebagai hasil dari pengaruh Buddhisme dan kemudian Islam, menjadikan ritual kepercayaan kuno ini kehilangan unsur-unsur serta makna aslinya. Aduan sapi asalnya bersifat relijius, kini menjadi ajang perjudian yang legal. Maka inilah yang dinamakan zaman berubah. Ketika masyarakatnya berubah, aduan sapi pun mengikuti.

Sama seperti sabung ayam (Geertz 1973), aduan sapi untuk waktu yang lama menjadi cermin dan ekspresi masyarakat di mana ia ditemukan. Kerumunan penonton yang terlihat di arena adalah rekonstruksi dari dinamika masyarakat itu sendiri, kadang-kadang menarik, kadang-kadang mengecewakan, yang pasti selalu diliputi pergolakan. Aduan sapi adalah gambaran perjuangan hidup, usaha untuk meraih status yang lebih tinggi dan mempertahankan kehormatan pribadi. Sehingga tidak sulit untuk membayangkan sosok sapi jantan sebagai representasi dari orang atau masyarakat.

Menjadi tidak tepat untuk begitu saja memposisikan aduan sapi karena wujud simboliknya yang abstrak. Dari awalnya, aduan sapi diselenggarakan sebagai cara meredam permusuhan, persaingan dan konflik individu atau kelompok. Namun perbedaan pandangan ini tampak sejalan dengan bentuk acaranya -pertempuran fisik antara sapi dan figur-figur yang berada dan mendukung di belakangnya. Di satu sisi mempererat solidaritas masyarakat dengan pemilik sapi. Pada sisi lain, memperkuat persatuan dan solidaritas masyarakat Madura yang memang bertentangan dengan dunia luar (terutama Jawa).

Aduan sapi sarat dengan simbol-simbol seksual. Arena pertarungan dan lingkungan sekitarnya menjadi panggung ekspresi ‘kekuasaan sosial laki-laki’, dan pertarungan adalah ekspresi dari ‘fungsi identitas laki-laki’ (Driessen, 1983: 123). Sapi adalah simbol par exellenece kejantanan, keberanian, dan agresifitas. Deskripsi yang ditulis Lawrence (1984: 180) tentang aduan sapi rodeo di Spanyol, juga berlaku untuk aduan sapi Madura: ‘Kualitas kelelakian adalah segalanya, dan itu ditunjukkan oleh bentuk tubuh, perilaku, dan jiwa’. Bahkan hanya sekedar menonton dan ikut berjudi atau dengan berkeliaran di dalam arena, bisa meningkatkan kemaskulinan yang bersangkutan.

Dengan ini identitas kejantanan mereka menjadi lebih kuat dan mereka terdorong untuk menampilkan perilaku yang sesuai dengan imej tersebut (Mamin, 1984: l60). Simbolisme seksual dapat dilihat sampai ke detail terakhir, dari penggosokan daerah sekitar alat kelamin sapi dan sosok pada lukisan, pemolesan dan penghiasan pada tanduk, merupakan simbol kejantanan (Blok, 1981: 427).

Puncak acara berada pada tarian dengan pesinden -satu-satunya wanita yang diperbolehkan berada dalam arena- Pada saat itu, kekuatan sapi secara metaforis diambil alih oleh para laki-laki (lihat Douglass, 1984: 243). Semua peristiwa di dalam dan di luar arena jelas menekankan dan memperkuat gagasan masyarakat Madura tentang hubungan antar jenis kelamin. []

This post is also available in: English

Huub de Jonge
Huub de Jonge (1946) is Senior Lecturer in Economic Anthropology at the Department of Cultural Anthropology and Development Studies, Radboud University Nijmegen, the Netherlands. He was awarded a PhD from the same university in 1984 with a dissertation on commercialization and Islamization on the island of Madura, Indonesia. His main fields of interest are economy and culture, lifestyles and identity, and entrepreneurship and ethnicity. In 1991 he co-edited (with Willy Jansen) a volume on Islamic pilgrimages. He is also co-editor (with Nico Kaptein) of Transcending Borders: Arabs, Politics, Trade, and Islam in Southeast Asia (Leiden 2002) and (with Frans Hüsken) of Violence and Vengeance: Discontent and Conflict in New Order Indonesia (Saarbrücken 2002) and of Schemerzones en schaduwzijden. Opstellen over ambiguïteit in samenlevingen (Nijmegen 2005).

Email | Profile

Zeinul Isbat
Sementara kosong.

Email | @batgood | Profile

Bibliografi

Bishop, C.W., 1925, The Ritual Bullfight', The China Journal of Science and Arts 3:630-637.

Blok, A., 1981, 'Rams and Billy-goats: A Key to the Mediterranean Code of Honour', Man 16: 427-440.

Bosch, F. van den, 1980, 'Der javanische Mangsakalender', Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 136-11/111:248-282.

Brown, C.C., 1928, 'Kelantan Bull-Fighting', Journal of theM alayan Branch of the Royal Asiatic Society 6-1:74-83.

Douglass, C.B., 1984, 'Toro Muerto, Vaca Es: An Interpretation of the Spanish Bullfight', American Ethnologist 11-2:242-258.

Driessen, H., 1981, Civiliseringstendenzen in het Spaanse stieregevecht, Paper given at a conference of the Nederlandse Sociologische en Antropologische Vereniging, 17 and 18 December.

?, 1983, 'Male Sociability and Rituals of Masculinity in Rural Andalusia', Anthropological Quarterly 56-3:125-133.

Geertz, C, 1973, 'Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight', in: Clifford Geertz, The Interpretation of Cultures, pp. 412-453. London: Hutchinson.

Hoen, H. 't, 1922-23, 'Stierengevechten (Adoean Sapi)', Indie 6-29:464-466.

Hulten, R. van, 1931, 'Adoean-Sapi (Populair-ethnografische Schets)', Djawa 11:171-173.

Jacob, M., 1984, Aan het einde van de middag. 's-Gravenhage: Nijgh and van Ditmar.

Jonge, H. de, 1986, 'Heyday and Demise of the Apanage System in Sumenep (Madura)', in: Sartono Kartodirdjo (ed.), Agrarian History; Papers of the Fourth Indonesian-Dutch His tory Conference, vol.1, pp. 241-269. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kok, J., 1921, Het rund en de rundveeteelt op Madoera: Een zo?technische Studie. Dissertation Veeartsenijkundige Hoogeschool, Utrecht.

Kreemer, J., 1956, De karbouw: Zijn betekenis voor de volken van de Indonesische Archipel's-Gravenhage: Van Hoeve.

Lawrence, E.A., 1984, Rodeo. An Anthropologist Looks at the Wild and the Tame. Chicago: University of Chicago Press.

Leach, E., 1964, 'Anthropological Aspects of Language: Animal Categories and Verbal Abuse', in: E.H. Lenneberg (ed.), New Directions in the Study of Language, pp. 23-63. Cambridge: M.I.T. Press.

Lith, P.A. van der, 1899, 'Dierengevechten', in: P.A. van der Lith et al. (eds), Encyclopaedic van Nederlandsch-Indie, vol.1, pp. 448-449. 's-Gravenhage: Nijhoff - Brill.

Marvin, G., 1984, 'The Cockfight in Andalusia, Spain: Images of the Truly Male', Anthro pological Quarterly 57-2:60-70.

?, 1986, 'Honour, Integrity and the Problem of Violence in the Spanish Bullfight', in: David Riches (ed.), The Anthropology of Violence, pp. 118-135. New York: Basil Blackwell.

., 1931, 'Madureesche stierengevechten', De Aarde en Haar Volken 67-2:32-36.

Nieuwenhuys, R., 1984, 'De rampokan', Orion 1-1:9-15.

Noer Dewo, M., and Ch. Maduratna, 1976, Kerapan Sapt Permainan dan Kegemaran Rakyat di Kepuhuan Madura. Jakarta: Kinta.

Osman, M.T., 1964, Text on the Rules of theK elantan Bull-fight', Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 37-2:1-10.

Pias, CO. van der, 1920-21, 'Herinneringen aan Kangean', Indie 4-47:741-744.

Raffles, T.S., 1817, The History of Java, vol.1. London: Black, Parbury, and Allen.

Schmidt auf Altenstadt, A.S. von, 1905, 'Het Madoereesch stierengevecht in de residentie Besoeki', Weekblad voor Indie 12-41:591-593.

Serpell, J., 1986, In the Company of Animals. Oxford: Basil Blackwell.

Simoons, F.J., and E.S. Simoons, 1968, A Ceremonial Ox of India. The Mithan in Nature, Culture, and History. Madison: University of Wisconsin Press.

Smith, G., 1989, 'Pentingnya Sapi dalam Masyarakat Madura', in: H. de Jonge (ed.), Agama, Kebudayaan dan Ekonomi; Studi-studi Interdisipliner tentang Masyarakat Madura, pp. 277-291. Jakarta: Rajawali.

Statistik Indonesia, 1975, Statistik Indonesia 1974-1975. Jakarta: Biro Pusat Statistik.

Statistik Jawa Timur, 1975, Statistik Jawa Timur 1974. Surabaya: PDPDT I.

Thomas, K., 1983, Man and theN atural World; A History of the Modern Sensibility. New York: Pantheon.

Touwen-Bouwsma, E., 1988, 'De stierenrennen van Madura', in: R.Schefold et al., Indonesia Apa Kabar?, pp. 62-69. Meppel: Edu'Actief.

Wessing, R., 1986, The Soul of Ambiguity; The Tiger in Southeast Asia. DeKalb, IL: Northern Illinois University Center for Southeast Asian Studies. [Monograph Series on Southeast Asia, Special Report 24.]

Wilken, G.A., 1893, Handleiding voor de vergelijkende volkenkunde van Nederlandsch-Indi?, vol.1. Leiden: Brill.

Zawawi, Imron D., 1982, Puter? Jenang. Surabaya: Bintang.


Artikel ini diterjemahkan oleh Zeinul Isbat, dari artikel penelitian oleh Huub de Jonge, "Of bulls and men; The Madurese aduan sapi", Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, Volume 146, Issue 4, pages: 423 –447, sebagai materi dari katalog pameran Homo Sapirin, pameran tunggal Suvi Wahyudianto yang dikuratori oleh Ayos Purwoaji.

Simak artikel selengkapnya di:
http://booksandjournals.brillonline.com/content/journals/10.1163/22134379-90003209