Menjadi Syahbandar di Tanjung Perak

Simak sekilas tentang Menara Kesyahbandaran Tanjung Perak, pemandangan laut nan cantik yang dapat dinikmati dari puncak menara, dan sedikit sejarahnya.

Jalan-jalan, Sejarah · 9 March 2015 · Keywords: , ·
PerakProject-menarasyahbandar1

Saya baru saja menyaksikan pemandangan terindah di Surabaya—kota terbesar kedua di Indonesia. Dari puncak menara Kantor Kesyahbandaran Tanjung Perak, saya menyaksikan dengan lambat Laut Jawa yang biru, penuh sesak oleh kapal-kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya Utara. Memandang Pulau Madura yang datar dan hijau, tampak teduh di seberang, ditemani angin laut yang sejuk di pagi yang cerah. Di sebelah kanan, kapal ferry Tongkol mengantarkan penumpang ke Pelabuhan Kamal, sejumlah kapal perang sedang bersandar manis di pelabuhan TNI AL dengan monumen Jalesveva Jayamahe, dan jembatan Suramadu yang menjulang samar di balik kabuttipis. Di kiri adalah terminal penumpang Surya Gapura Nusantara, terminalpenumpang kapal laut termewah di Indonesia, yang dibangun oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III. Di sebelahnya adalah sejumlah dermaga dengan cranes yang bergerak memindahkan muatan dari badan-badan kapal, disana juga berdiri dengan teguh pilar-pilar penyimpanan tepung milik Bogasari.

Saat pertama kali saya menyeberang ke Madura dari Dermaga Ujung, Pelabuhan Tanjung Perak, pemandangan pertama saat kapal ferry meninggalkan Dermaga Ujung adalah gedung tua nan cantik dengan atap berwarna hijau, dialah Kantor Syahbandar Kelas Utama Tanjung Perak Surabaya yang sebelumnya dikenal sebagai Kantor Administrasi Pelabuhan Tanjung Perak.

Stasiun Radio Pantai Kelas I Surabaya yang berada di sebelah Menara Syahbandar. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Stasiun Radio Pantai Kelas I Surabaya yang berada di sebelah Menara Syahbandar. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Kantor Administrasi Pelabuhan Tanjung Perak pada tahun 2008 berganti nama menjadi Kantor Syahbandar Kelas Utama Tanjung Perak Surabaya dan Otoritas Pelabuhan yang berkantor di depan rumah sakit PHC, berada di bawah Kementrian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan kini memiliki tugas melaksanakan pengawasan dan penegakan hukum dibidang keselamatan dan keamanan pelayaran, koordinasi kegiatan pemerintahan di pelabuhan serta pengaturan, pengendalian dan pengawasan kegiatan kepelabuhanan pada pelabuhan yang diusahakan secara komersial.

Untuk meraih bangunan Kantor Syahbandar Kelas Utama Utama Tanjung Perak Surabaya bisa dengan mengajukan proposal observasi/riset ke kantor tersebut. Saya berkunjung ke Kantor Syahbandar Kelas Utama Tanjung Perak Surabaya bersama tim Perak Project, sebuah proyek untuk melihat kembali kawasan Perak yang berada di ujung Surabaya Utara. Kantor Syahbandar Kelas UtamaTanjung Perak Surabaya yang beralamatkan Jalan Kalimas Baru 126 adalah sebuah bangunan penanda yang berada di muara Kali Mas. Bangunan cagar budaya ini memiliki atap berwarna hijau seperti sirip-sirip yang melindungi menara dan bangunan induk. Bangunan ini pernah menjadi markas Serikat Pelayaran Indonesia yang berjuang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945. Menurut Majalah Dermaga (edisi 174, Mei 2013: 35) yang diterbitkan oleh Pelindo, Serikat Pelayaran Indonesia berperan menghimpun para pelaut dan pekerja bangunan untuk ikut melakukan gerakan perlawanan bawah tanah, mengumpulkan informasi gerakan kapal dan pasukan musuh, mencuri senjata untuk diserahkan kepada pejuang, dan sabotase terhadap kepentingan musuh.

Tangga di dalam menara. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Tangga di dalam menara. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Bangunan dua lantai dengan langgam kolonial ini cukup kontras dengan tambahan (ornamen) arca dan relief kisah Ramayana. Lantai dasar dan lantai satu dipakai sebagai kantor, disambungkan dengan  tangga ulir menuju ke menara Syahbandar, yang terdiri dari tiga lantai (lantai penghubung, ruang pengawas, dan puncak menara). Ruang pengawas ini sudah tidak aktif karena pindah ke kantor Otoritas Pelabuhan, menyisakan monitor dan box telepon.Kami lalu melanjutkan pendakian dan tiba di puncak menara yang hanya selebar dua meter dengan batas pengaman yang kurang dari satu meter, cukup membuat jantung berdegup lebih kencang dan kaki melemah dengan berada di ketinggian empat lantai. Warna cat emas sebagai dekorasi di puncak menara memang memberikan kesan megah bangunan ini, hadir tulisan “nganjoek” yang menjadi satu-satunya prasasti di puncak menara. Konon “nganjoek” adalah signature dari para buruh asal Nganjuk—kota di Jawa Timur—yang mengecat puncak menara ini.

"Nganjoek" di atas menara syahbandar Tanjung Perak. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

“Nganjoek” di atas menara syahbandar Tanjung Perak. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Sambil duduk di puncak menara, saya mengedarkan pandangan berkeliling 360 derajat, merekam pemandangan yang akan selalu saya rindukan, menyaksikan Surabaya sebagai kota pelabuhan.Surabaya pada awal abad ke-20 adalah kota terbesar di Hindia Belanda, kota pelabuhan yang sibuk. Saat itu Surabaya Utara menjadi pusat kota karena memiliki Pelabuhan Kali Mas yang menjadi gerbang utama masuk ke Surabaya. Didukung dengan kesuburan tanah di Jawa Timur, Surabaya menjadi pusat distribusi hasil bumi, menjadi pusat perdagangan di Hindia Belanda.

Pemandangan dari menara syahbandar. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Pemandangan dari menara syahbandar. Foto: kathleen azali / dokumentasi #PerakProject

Berbatasan langsung dengan Selat Madura, Surabaya Utara masih menyisakan kejayaan di masa kolonial. Di kecamatan Bulak, Kenjeran, Semampir, Pabean Cantikan, Krembangan, masih dapat kita temukan, banyak bangunan berlanggam Eropa, Cina, Arab, yang sebagian masih berfungsi menjadi kantor BUMN dan toko. Namun sejak Orde Baru, pusat kota bergeser ke tengah kota, aktivitas perdagangan makin menurun di Surabaya Utara, pembangunan pun berkurang di Utara.

Di puncak menara syahbandar ini, dimanjakan silir lembut angin laut, disirami sinar cantik matahari pagi, saya membayangkan para syahbandar di era kolonial yang mengawasi lalu lintas kapal di perairan ini dengan teropongnya, mengamati beragam kapal yang sedang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak. Seperti yang diperikan oleh Adrian B. Lapian—sejarawan maritim, pelabuhan bukan saja tempat berlabuh, tetapi tempat bagi kapal dapat berlabuh dengan aman, terlindung dari ombak besar, angin, dan arus yang kuat seperti yang tersirat dalam arti kata harbour (Inggris) dan haven (Belanda).

Ruang pengawas yang tidak lagi digunakan. Foto: Nadia Maya Ardiani

Ruang pengawas yang tidak lagi digunakan. Foto: Nadia Maya Ardiani

Adrian B. Lapian dalam bukunya “Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17” menjelaskan peran syahbandar di masa itu. Begitu kapal memasuki pelabuhan, segera syahbandar datang mengunjunginya. Pelabuhan yang banyak didatangi kapal dan pedagang asing memerlukan lebih dari seorang syahbandar. Pada masa jayanya, Pelabuhan Malaka sampai memiliki empat orang syahbandar. Sebagai pejabat yang menguasai lalu lintas perdagangan yang keluar-masuk pelabuhan, syahbandar bisa menjadi seseorang yang sangat berkuasa. Kalau di satu pihak syahbandar harus memperhatikan kepentingan pedagang asing dan menjadi penyambung mereka, maka di pihak lain ia harus bertindak sebagai pejabat pelabuhan yang menagih pajak dan bea cukai untuk kepentingan negeri dan pejabat-pejabatnya. Berpihak kepada pedagang asing adalah suatu hal yang dapat dimengerti sebab ia sendiri dipilih antara mereka. Bila syahbandar tidak mengindahkan kepentingan pedagang dan hanya menjalankan tuntutan penguasa setempat, maka kepercayaan pedagang asing terhadap dirinya hilang, perasaan tenteram berdagang di bandar itu tidak ada lagi karena tidak ada lagi yang melindungi kepentingan mereka, kegiatan perdagangan bisa berpindah ke pelabuhan lain.

Kini syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteridan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan peraturan perundang- undangan untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran. Sejak tahun 2008 tidak ada aktivitas di Menara Syahbandar, namun AC tetap menyala di ruang monitor untuk menjaga properti elektronik yang masih terpasang di sana. Sayang sekali, menara cantik ini kosong tanpa aktivitas berarti.

Lapangan parkir dan panel cahaya surya. Foto: Nadia Maya Ardiani

Lapangan parkir dan panel cahaya surya. Foto: Nadia Maya Ardiani

Setelah merasa cukup membayangkan bagaimana menjadi syahbandar di pelabuhan ini, kami kembali ke lantai dasar, kembalike daratan. Kami duduk di ujung halaman kantor sambil menyaksikan air cokelat Kali Mas yang bertemu dengan air biru Selat Madura,  lalu-lalang kapal ferry Surabaya – Madura, dan kapal milik TNI AL yang sedang patroli atau latihan. Halaman yang sekaligus menjadi tempat parkir mobil memiliki lampu penerangan tenaga surya yang tegak berjejer rapi. Saatnya kami kembali ke Surabaya Pusat dan selalu menantikan kesempatan untuk kembali ke Menara Syahbandar.

Berkelana di Surabaya Utara adalah pengalaman baru selama tiga tahun terakhir. Sehari-hari saya hanya beraktivitas di Surabaya Pusat dan sedikit di Surabaya Timur. Perjalanan saya dimulai dari menyeberang ke Madura dari Dermaga Ujung, menyusuri rel kereta api dari Stasiun Waru hingga Stasiun Kota, menjelajahi Kali Mas dari Jembatan Bungkuk hingga Pelabuhan Kali Mas, berjalan kaki keliling Kampung Arab dan Pecinan, belanja palawija di Pasar Pabean, naik lyn “DA” dari Surabaya Barat ke Surabaya Utara, naik bis kota damri dari Bungurasih ke Perak, bersepeda dini hari ke Pasar Senter,  dan makan pastel di dekat viaduk Tugu Pahlawan. Selain Kampung Arab, pemukiman penduduk di Surabaya Utara masih hidup di Kapasan, Tambak Bayan, Kepatihan, Bubutan, Maspati.Surabaya Utara menjadi bagian kota yang paling menarik bagi saya.