Warkop Pitulikur dan Aktivisme Sepak Bola

Perlawanan melawan tekanan terhadap Persebaya dapat ditemukan di sebuah warung kopi yang dikenal sebagai Warkop Pitulikur di Wiyung.

Budaya, Kehidupan · 30 June 2015 · Keywords: ·
Jpeg

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Reading Sideways dalam bahasa Inggris. Diterjemahkan dan diterbitkan ulang di Ayorek! dengan izin penulis. Versi lebih awal dari artikel ini (dalam bahasa Indonesia) telah diterbitkan di Football Fandom Indonesia.
Foto oleh Husin Ghozali.


Perlawanan terhadap ketidakadilan dapat muncul di mana saja. Begitu pula perlawanan terhadap kekuatan politik yang telah berusaha untuk membunuh perkumpulan sepakbola Persebaya muncul di sebuah warung kopi yang dikenal sebagai Warkop Pitulikur (27 dalam bahasa Jawa).

Warkop Pitulikur terletak di pusat kota Surabaya – kota terbesar kedua di Indonesia. Warkop ini adalah tempat di mana percakapan intens dan setara berlangsung, ditemani makanan dan minuman sederhana. Warung ini sendiri sangat sederhana. Ada potongan-potongan besi berserakan, karena di dekatnya ada pengepul besi bekas. Lantainya dari tanah, meja dan kursinya kayu. Tempatnya cukup besar; mungkin dapat menampung seratus pengunjung atau lebih. Jika semua kursi habis diduduki, maka spanduk daur ulang ditebar di tanah, untuk lesehan di bawah. Sebagaimana tampak dari nama warungnya, kebanyakan orang minum kopi di Warkop Pitulikur. Sedangkan untuk makanan, orang dapat memilih hidangan sederhana nasi, mie instan, gorengan dan kerupuk.

Berbeda dengan menu makanan dan minuman yang sederhana, pengunjung Warkop Pitulikur memiliki akses ke teknologi yang layak. Ada televisi plasma besar dan proyektor digital untuk menonton pertandingan sepak bola. Sebagian besar pelanggan tetap Warkop Pitulikur adalah penggemar gila sepak bola. Warung kopi ini juga memiliki koneksi wi-fi yang sangat baik. Sebagian besar adalah fans yang mengarah ke Persebaya (1927). Beberapa aktif dalam kelompok pendukung Bonek, tapi ada pula fans yang lebih santai. Namun, sulit untuk bersikap netral: politik Persebaya mempolarisasi dan panas.

Ngobrol, update status, nge-tweet

Ngobrol, update status, nge-tweet

Ketika saya mengunjungi Warkop Pitulikur pada Sabtu 13 Juni 2015, banner iklan final Liga Champions antara Barcelona dan Juventus masih menggantung di depan. Pada hari Sabtu ini, Warkop Pitulikur sekali lagi sangat sibuk — banyak di antaranya masih mengenakan seragam SMA mereka, datang langsung dari sekolah. Mereka berbicara tentang berbagai macam hal, tapi topik utama pembicaraan adalah pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung malam itu. Pertandingan ramah yang akan dimainkan di Gelora Bung Tomo di Surabaya, antara ‘Andik and Friends’ dan ‘Tim Amigos’. Tim pertama terdiri dari mantan pemain Persebaya, sementara “Tim Amigos” terdiri dari beberapa pemain Amerika Latin yang saat ini bermain di Indonesia. Warkop Pitulikur adalah salah satu tempat penukaran kuitansi pembayaran dengan tiket pertandingan

Selain penukuran tiket, fans juga bisa membeli tiket untuk pertandingan. Tapi ini sudah terjual habis. Perkerja Warkop Pitulikur memberitahu fans yang ingin menonton pertandingan untuk langsung ke stadion, setelah mendapatkan jaminan bahwa tiket masih dijual di loket stadion.

Pagi itu di Warkop Pitulikur, sekelompok penggemar Persebaya (dikenal sebagai Bonek) telah tiba dengan pesawat dari Jakarta. Dulu, Bonek menjadi terkenal karena bepergian dalam konvoi besar dengan kereta api atau bus. Mereka bertemu dengan kelompok Bonek dari Yogyakarta dan kota-kota lain dan tentu saja, kelompok-kelompok Bonek lokal dari Surabaya. Setelah sedikit basi basi biasa, percakapan segera mengarah pada keadaan saat ini dan perjuangan Persebaya (1927).

Penggemar bola lokal dan internasional

Penggemar bola lokal dan internasional

Persebaya telah didera ‘dualisme’ (atau fragmentasi) selama dua tahun terakhir. Ini adalah hasil intervensi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia mengenai kepemilikan Persebaya. Persebaya yang resmi didirikan oleh PSSI tidak mampu mendapatkan dukungan dari masyarakat Surabaya dan Jawa Timur. Tim yang memiliki dukungan publik kini lebih dikenal sebagai Persebaya 1927 – berdasarkan tahun pendiriannya. Bonek dari seluruh negeri yang berkumpul di rumah kopi ini membahas masa depan Persebaya dan khususnya, kepastian hukum yang sekarang sedang diperjuangkan di pengadilan.

Sambil minum secangkir kopi hitam dan mendengarkan perdebatan Bonek di Warkop Pitulikur, saya teringat pada Jurgen Habermas dan pemikirannya tentang budaya kedai kopi. Dia menulis bagaimana kelas menengah Eropa bertemu di kedai kopi dan memperdebatkan isu-isu kunci tentang masa depan Eropa secara egaliter. Dari sana ide-ide tentang demokrasi dikembangkan, menentang monarki absolut yang memborgol kebebasan di Eropa. Kedai kopi ini adalah semacam ruang publik. Salah satu kondisi ruang publik adalah kemampuan individu untuk terlibat dalam perdebatan, dan memiliki hak yang sama untuk mengajukan ide-ide dan argumen mereka sendiri. Kedua, tidak ada tekanan dari orang lain yang terlibat dalam perdebatan. Terakhir, perdebatan harus dilakukan dengan cara yang adil, tanpa peserta lainnya berusaha untuk memaksakan idenya.

Seiring datang ultra

Seiring datang ultra

Brian Cowan menulis sebuah buku yang menarik mengenai hal ini: The Social Life of Coffee: The Emergence of British Coffeehouses (Yale, 2005). Menurut Cowan, pengenalan kopi dari Timur ke Barat (Inggris, dalam hal ini) oleh kekaisaran Ottoman, membawa budaya kedai kopi. Kopi, yang sebelumnya hanya dialami oleh para pengelana Inggris, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di kedai-kedai kopi, cinderamata dan barang-barang eksotis lainnya dipajang untuk menarik lebih banyak pengunjung. Jenis ruang publik sebagaimana dijabarkan Habermas dan di Eropa, juga dapat ditemukan di Warkop Pitulikur. Pengunjung yang saya temui adalah publik yang tercerahkan dan terdidik. Jika di masa lalu, orang-orang Inggris yang pergi ke rumah kopi dapat mengakses surat kabar, di sini di Pitulikur, pengunjung mendapat akses internet gratis. Mereka kemudian memperdebatkan berita sambil minum kopi dan duduk di meja. Percakapan mereka juga diperdebatkan melalui media sosial.

Hadiah menebak skor

Hadiah jika menebak skor

Pada hari itu di Warkop Pitulikur, saya bertemu dengan beberapa teman dan kenalan yang secara berkala memberikan kontribusi dalam wacana sepak bola di Indonesia. Beberapa dari mereka adalah aktivis, wartawan, atau mahasiswa pasca-sarjana. Ini termasuk Arif Chusnudin (yang aktif dalam kelompok pendukung Green Nord Bonek), Andhi M (lulusan hukum, yang datang dari Jakarta), dan Oryza Wiryawan (a Bonek, wartawan dan penulis buku, Imagined Persebaya). Lainnya yang hadir, termasuk orang-orang yang membantu mengkoordinasikan nyanyian dan tifos yang dilakukan di stadion. Salah satu yang lebih terkenal ini adalah Andie Peci, yang juga adalah seorang aktivis hak-buruh. Kelompok lain termasuk Joner – subkelompok dari Bonek. Mereka terutama fokus membahas bagaimana Persebaya 1927 bisa kembali tampil di tingkat nasional sepakbola Indonesia. Banyak Bonek memakai kaus Persebaya (1927) dari era yang berbeda. Mereka merasa bahwa para pendukung Persebaya saat ini yang diakui secara resmi tidak memiliki hubungan nyata dengan Persebaya (1927) mereka.

Gerakan Reformasi dari akhir 1990-an dan awal 2000-an tidak berdampak pada PSSI, yang tetap berkaitan erat dengan Partai Golkar. Nurdin Halid telah dapat mengarahkan PSSI meskipun telah dipenjara beberapa kali. Mereka yang berusaha menantang PSSI telah berhadapan dengan aksi berat dari preman yang melakukan pekerjaan kotor elit politik. Satu tahun yang lalu, Andie Peci ditikam dalam kasus yang belum terselesaikan.

Pelanggaran terakhir adalah serangan terhadap aktivis Persebaya (1927) menjelang kongres PSSI 2015. Serangan itu terjadi saat siaran dari perdebatan live yang melibatkan Saleh Ismail Mukadar, kepala Persebaya 1927. Siaran itu dihentikan setelah anggota Pemuda Pancasila (organisasi/milisi berbasis massa) mengancam dan menamparnya. Perilaku mereka yang mengintimidasi juga memiliki efek berhasil mematikan siaran. (Rekaman dapat dilihat di sini)

Bonek di Warkop Pitulikur tak memedulikan status sosial atau status dalam perdebatan ini. Percakapan dibentuk hanya oleh rasionalitas. Sama seperti di Eropa di masa lalu, Bonek juga memperkuat tekad mereka dalam memerangi rezim politik yang korup. Dalam kasus mereka itu adalah PSSI; entitas politik yang membelah kelompok mereka, Persebaya, menjadi dua. Di Warkop Pitulikur, politik dan aktivisme tidak dapat dipisahkan dari diskusi tentang sepak bola. Korupsi politik arus utama telah menyebabkan fragmentasi kelompok yang dulunya besar; tapi pendukung militan terus melawan upaya pembungkaman.